Sampah

Uang ternyata sama seperti sampah.  Kita harus tahu situasi yang tepat untuk membuangnya, apakah dengan sembarangan, atau mencari tempatnya yang tepat. Mungkin pikiran ini lahir dari sebuah kegelisahan. Mungkin juga timbul dari penyangkalan. Tapi mudah-mudahan penuh pengharapan. Semoga harapan itu tak seperti uang yang mudah terbang dari tangan ke tangan, membuatnya murah meski selalu dikejar.

Sama seperti sampah, tak baik rasanya menimbun uang terlalu banyak, apalagi menggunung. Itu yang saya pikirkan, tapi terserah pendapat orang lain, saya tak peduli. Sama tak pedulinya dengan segelintir manusia yang sibuk memperkaya diri untuk membuat pegunungan hijau, pegunungan uang, pegunungan sampah. Dari gunung-gunung mereka masalah timbul dimana-mana. Bergulir seperti bola salju yang kedinginan, butuh perhentian.

Untuk itulah perlu untuk tidak menumpuk uang. Jika dibiarkan ia bisa menenggelamkan semuanya. Semuanya! Maka dari itu manusia membuangnya, entah rutin maupun tidak, entah sedikit atau banyak. Ada yang membuangnya rutin sedikit-sedikit tiap hari. Ada pula yang menjadikannya bukit, baru membuang seluruh bukit itu. Itu pilihan. Dan setiap pilihan pasti punya alasan. Namun, mengutip Marx, tak semua alasan masuk akal.

Saya mungkin sedikit orang yang tak suka uang. Saya mungkin munafik, tapi bisa juga tidak. Saya mengakui dengan sangat kebutuhan akan uang. Tapi kecintaan padanya hanya menimbulkan bau busuk, seperti pada gunungan sampah. Oleh karena itu saya enggan menumpuknya terlalu tinggi, entah enggan atau memang tak ada yang bisa ditumpuk. Tapi toh saya termasuk tipe yang membangun bukit, lalu membuangnya serentak.

Saya menabung uang hingga batas tertentu, lalu membuangnya pada suatu waktu. Saya tak ingin membuangnya sembarangan, tak ingin menghamburkannya seenaknya. Saya tahu uang yang saya benci dan saya butuhkan ini tak mudah didapat, meski ia tetap murahan bagi saya. Jadi saya selalu terobsesi membuang bukit kecil tersbut di sepanjang perjalanan saya menuju sudut-sudut bumi yang lain. Di sepanjang garis avontur.

Dan sepanjang hidup saya berharap membuang uang di seluruh pelosok. Di kereta yang melintasi pinus-pinus di Italia, di atas jip yang memandu menikmati Afrika, di saku seniman lukisan di Amerika, di kapal di lautan pasifik kala menyambangi Oseania, di tangan-tangan polos anak-anak di Papua, dimanapun. Karena seperti kalimat seorang yang bijak, sampah seseorang mungkin permata terindah bagi orang yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s