Conte

Hari itu akhir pekan. Kalau tidak salah hari minggu, kalau salah berarti hari sabtu. Seingat saya malam itu adalah pertama kalinya secara sadar saya menonton sebuah pertandingan sepak bola. Pertandingan malam itu adalah penyisihan grup Euro 2000 antara Italia dan Turki. Turnamen yang tahun itu dihelat di Belanda dan Belgia menempatkan Prancis sebagai kampiun dengan Italia sebagai runner-up. Tapi saya lebih peduli pada malam saat Italia menundukkan Turki 2-1. Malam itu.

Di malam yang spesial bagi saya itu ada dua sosok pemain yang takkan terlupakan. Yang pertama adalah Filippo Inzaghi. Siang hari sebelum pertandingan itu saya dibelikan ayah saya baju sepak bola pertama saya. Baju itu bergariskan hitam dan putih dengan bagian belakang tertulis “Inzaghi”. Baju Juventus bernomor punggung 9 itu entah dimana sekarang, tapi saya tak akan lupa. Malam itu, Inzaghi mencetak gol penalti penentu kemenangan. Ia langsung jadi favorit saya.

Yang kedua adalah Antonio Conte. Pemain bernomor delapan yang malam itu mencetak gol salto nan indah. Gol yang di ujung turnamen ditahbiskan sebagai gol terbaik Piala Eropa 2000. Sangat indah dan tak terlupakan. Terlebih bagi saya. Terlebih di malam pertama saya menonton sepakbola dengan penuh kesadaran. Si gol dan si pemain selalu tinggal dalam ingatan saya. Bahkan hingga kini, sebelas tahun berselang.

Si pemain itu tak lagi berlarian di tengah lapangan hijau. Sepatunya telah digantung tujuh tahun yang lalu, atau empat tahun setelah gol saltonya tersebut. Tapi sosoknya masih hidup di sepak bola. Tetap tinggal dalam stadion. Kini ia jadi pelatih yang berteriak lantang di pinggir garis lapangan. Memberi arahan, memuji pemainnya, marah jika ada yang salah, dan melompat bersorak saat timnya mencetak gol.

Tim yang dilatihnya adalah tim yang paling dicintainya. Tim yang dibelanya selama dua belas tahun. Juventus. Klub Italia tersukses yang juga sedang dibelanya saat gol istimewa itu terjadi. Klub yang dua tahun belakangan hancur lebur. Mencoba berevolusi dengan seorang pelatih yang tak terlalu berpengalaman namun punya cinta dan passion mendalam pada sejarah dan tradisi klub. Conte kembali demi sebuah revolusi.

Ia rupanya tak berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, saat masih mencari bola di tengah lapangan. Dengan semangat ala Juve ia mengatur lapangan tengah dan sebagai kapten (sebelum ia serahkan kepada Del Piero) turut memompa gairah teman-temannya. Ia tak ada bedanya. Dengan gairah yang persis ia terguyur hujan di saat mendampingi Juve yang dicintainya melawan Catania. Partai yang siaran ulangnya saya tonton sambil menulis teks ini.

Antonio Conte makin terlihat tak berubah saat big match pertama Juve di stadion baru. Juve melawan Milan. Malam itu mungkin malam paling indah setelah calciopoli. Juve dengan tegas membunuh Milan 2-0 di rumah barunya. Marchisio, si nomor delapan yang mewarisi nomor Conte, mencetak dua gol sekaligus. Dua gol yang cukup bagi saya untuk membuktikan bahwa Conte selalu sama.

Saat gol pertama Marchisio, ia kegirangan sekali. Ia melompat bak anak kecil, meninju udara, berteriak lantang. Ia sama sekali tak peduli sorot kamera, tak peduli apapun. Ia lampiaskan emosinya sebagai Juventino sejati. Bukan hanya sebagai seorang pelatih yang gembira karena sebiji gol. Ia tak berubah. Gairahnya, cintanya, semangatnya, gayanya, semuanya. Ia yang akan menaruh kembali Lo Spirito Juve di hati tiap pemain Juve. Antonio Conte!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s