Perjalanan

Saya mungkin terjangkit suatu virus mematikan yang tak ingin saya sembuhkan. Namanya mungkin jalan-jalan. Istilah lebih kerennya traveling. Indikasi yang paling jelas adalah soal keresahan di waktu-waktu tertentu dalam rutinitas. Saat dikelas mata terkadang terlempar pada pemandangan dibalik jendela kaca. Disana ada langit biru dan daun hijau. Lalu bayangan terlempar juga pergi ke tempat lain. Meninggalkan semua konsep dan teori di papan tulis.

Kadang di kantin kampus, sambil menyeruput kopi atau mengaduk teh manis, bayangan tentang suatu tempat atau lebih tepatnya angan tentang sebuah perjalanan melintas. Seperti traveling without moving. Entahlah ini apa, mungkin saya resah tak betah dengan keseharian. Selalu suntuk melihat jadwal dan kalender, tak sabar segera libur. Rencana soal perjalanan selalu jadi hiasan di saat keresahan itu muncul dari balik sadar.

Begitu juga di ruang privat bernama kamar pribadi. Di depan laptop saya habiskan berjam-jam memandangi keajaiban bernama Lonely Planet dan beragam travel blog menarik. Tak jarang hanya tiduran malas sambil membolak-balik National Geographic Traveler. Saya berkelana jauh ke dalam tiap lembar dan layar kaca, mencoba berada di bawah langit dimana gambaran indah muncul. Suatu waktu saya benar-benar akan menuju segala penjuru.

Lalu soal cita-cita. Ah tampaknya saya tak punya cita-cita lagi selain sejauh mungkin keliling dunia. Saya dulu ingat ingin jadi wartawan saat sekolah menengah. Setelah saya pikir lagi ternyata keinginan itu muncul karena keinginan lain. Saya berpikir menjadi wartawan bisa keluar negeri, jalan-jalan melihat dunia. Kini itu tak penting. Kenapa harus menuju tempat lain untuk menuju tempat lainnya. Semoga angin bersahabat.

Racauan ini mungkin tak akan pernah berhenti total. Saya akan terus protes pada diri sendiri, pada keadaan, pada jadwal bikinan orang lain, pada kehidupan kreasi orang lain. Dan pada satu titik yang entah dimana dan kapan, suara protes itu akan berhenti seperti gema di pegunungan. Protes itu akan digubah jadi lagu yang indah yang pas menemani kaki melangkah di jalanan menuju bibir pantai yang sunyi. Saya akan menuju finish.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s