Barcelona

Barcelona adalah sebuah sensasi beberapa tahun belakangan ini. Mereka mengoleksi banyak sekali gelar dan menoreh berbagai kemenangan besar lewat permainan bergaya tiki-taka. Umpan pendek dari kaki ke kaki seolah menjadi ciri khas mereka menuju puncak sukses. Dampaknya, tiki-taka kini seolah jadi gaya yang dipelajari dan dianut berbagai klub lain di dunia. Khususnya mereka yang menjadikan Barcelona sebagai role model.

Dari segi dukungan, fans Barcelona tampaknya semakin banyak. Saya tak tahu datanya, tapi logikanya pertambahan fans berbanding lurus dengan kesuksesan sebuah tim. Meski saya yakin bahwa banyak dari mereka yang sekedar fans karbitan dan glory hunter. Saya tentu bukan merupakan salah satu dari mereka. Saya justru salah satu dari sedikit orang yang tak menyukai permainan Barcelona yang fantastis itu.

Saya mungkin iri, tapi sebenarnya tidak. Saya memang mengakui bahwa sepakbola ala Barcelona indah namun tetap tak menyukainya. Mungkin karena terlalu indah. Bagi saya Barcelona lebih seperti tarian balet yang gemulai dan cantik, bukan sebuah sepakbola. Bagi saya sepakbola harusnya lebih keras, tak perlu cantik, namun harus menggebu-gebu, kalau perlu berdarah-darah. Sepakbola harus seperti perang, bukan balet.

Kemarin Barcelona baru beraksi lagi setelah dua kali berturut-turut bermain imbang, hasil yang bagi mereka seperti kekalahan. Mereka membantai Osasuna dengan skor ajaib 8-0. Sebuah hasil yang aneh dan kacau di era sepakbola modern seperti sekarang, terlebih itu terjadi di liga elite Eropa. Barcelona menguasai seluruh pertandingan dan menghancurkan lawannya dengan sadis. Saya kasihan. Entah pada siapa.

Saya teringat sebuah kalimat dari buku yang baru selesai saya baca. Kalimat itu berbunyi, “mungkin kita memang harus membunuh, tapi kita tidak membantai, ada seni dalam pertarungan.” Malam itu Barcelona bukan hanya membunuh lawannya, mereka membantai habis-habisan. Seorang pengamat lalu melontarkan kicauan terkait hasil itu, intinya dia bilang, “8-0 jauh lebih membosankan daripada hasil 0-0 yang ketat.” Indah namun tak berseni.

Mungkin dengan cara itu Barcelona menghargai lawan, yaitu dengan menghadapinya dengan serius, sepenuh hati. Tapi seharusnya mereka sadar bukan hanya mereka yang punya fans. Bagaimana rasanya jadi fans Osasuna malam itu? Saya mungkin membingungkan dengan bilang Barcelona terlalu cantik, lalu bilang mereka seperti pembantai kejam. Tapi entahlah saya pun bingung sedang meracau apa. Mungkin omelan seorang penggila sepakbola yang bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s