Backpacking

Backpacking adalah seni perjalanan yang kompleks. Sebagai sebuah terminologi, ia terlalu rumit untuk dirangkum hanya dalam beberapa kata dan ungkapan. Sebagai kata, ia punya makna beragam di tiap benak orang yang mendengarnya. Menemukan definisi yang pasti dari term backpacking memang hampir mustahil. Seiring perkembangan dunia perjalanan, ia pun juga berjalan, jauh.

Meskipun sering dimaknai bermacam-macam oleh tiap pribadi, backpacking tentu tetap punya prinsip-prinsip utama yang mencirikannya sebagai sebuah gaya perjalanan yang unik dan otentik. Salah satunya adalah fleksibilitas. Hal ini mungkin yang menjadi pembeda paling kentara antara backpacker dan tourist. Turis umumnya didefinisikan sebagai mereka yang berjalan dengan jadwal yang fixed dan ketat. Backpacker di sisi lain memuja keleluasaan jadwal perjalanan.

Terkait hal ini saya melihat tren yang berkembang di dunia perjalanan modern yang seolah tak bersahabat pada backpacker. Di Indonesia, khususnya, kini marak promo tiket pesawat yang menawarkan harga-harga miring ke berbagai belahan dunia. Sekilas ini memang tampak menguntungkan bagi pecandu perjalanan. Tapi bagi backpacker hal itu bisa jadi masalah. Persoalannya ada pada waktu dan jadwal.

Promo-promo tersebut biasanya dibuka berbulan-bulan sebelum jadwal keberangkatan. Misalnya, promo untuk bulan Januari tahun depan bisa saja dibuka pada Juni tahun ini. Akibatnya, calon penumpang harus membeli tiket jauh-jauh hari sebelum jadwal perjalanan. Meski secara finansial menguntungkan, hal ini mencederai prinsip fleksibilitas dalam backpacking. Fenomena tersebut membuat sebuah itinerary perjalanan jadi rigid.

Seorang backpacker tulen umumnya lebih suka dengan hal-hal yang mendadak dalam perjalanan. Jika ingin berangkat besok, beli tiketnya hari ini. Jika besok pagi ingin pindah tempat, direncanakannya malam ini. Ketidakpastian semacam itu yang bagi mereka memperkaya cita rasa sebuah perjalanan. Dengan adanya promo yang menggiurkan yang kadang sulit ditolak, sebuah perjalanan ala backpacker kadang kehilangan salah satu esensi utamanya.

Mungkin hal itu yang menjadikan backpacker kini sulit ditemui. Atau bila ada yang ngotot bahwa backpacker masih marak, sebenarnya itu bukanlah gaya backpacking yang sebenarnya. Itu mungkin sebuah model lain yang diadaptasi dari backpacking, tapi bukan. Itulah kemudian kini muncul istilah flashpacking, yang saya definisikan secara sembarangan sebagai “the luxurios backpacking”. Kemurnian backpacking luntur, tapi memang itulah tugas jahat waktu.

Atau mungkin bila masih ada yang ngotot lagi soal masih maraknya backpacking, itu mungkin sebuah gaya backpacking yang tak esensial lagi. Ia telah kehilangan separuh nyawanya, meski tampak dari luar tetap tampak dandanan seorang backpacker. Jika masih ada yang ngotot lagi? Oke, saya menyerah. Backpacking yang murni dan esensial mungkin masih ada. Semua tantangan yang saya sebut diatas mungkin malah menjadikan seorang backpacker sejati makin bersemangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s