Santai

Suatu Minggu siang di bibir pantai selatan Pulau Dewata, saat saya menceburkan diri dalam kenikmatan dan ketenangaannya. Setelah selesai mencumbu lautan saya berjalan pulang mendaki tangga-tangga yang cukup tinggi hingga membuat saya kehausan. Untung ada sebuah warung sederhana di lokasi pantai yang sepi itu. Saya membeli sebotol air mineral yang cukup mengentaskan dahaga. Tak hanya itu, ada beberapa orang lain di warung itu.

Setidaknya ada tiga orang yang terlibat perbincangan santai di warung itu, ketiganya pria. Pemilik warung dan dua orang pengunjung, satu asal Ubud dan satunya lagi orang Korea yang telah lancar berbahasa Indonesia. Saya tak bergabung dalam diskusi, tapi tetap saja terlibat secara tidak langsung sebagai pendengar yang setia. Sambil menenggak bulir-bulir air dalam botol, saya mengamati seksama tiap topik yang mereka bicarakan.

Beberapa waktu berselang, saya tampak lebih serius mendengarkan. Saat itu si pria Korea menyebut kata favorit saya, santai. Ia menyebutnya dalam kalimat, “di Bali enaknya kerja bisa lebih santai, kalau di Jakarta saya kaya robot aja.”  Saya melumat habis isi perbincangan tentang topik itu yang lebih sering diwarnai suara dua orang pengunjung, sementara sang pemilik warung cuma sesekali saja menimpali.

Saya lalu berpikir dan merenung saat itu juga, tentang kalimat itu. Sejak berada di Bali saya memang merasakan suasana santai kental di pulau itu. Tapi mungkin itu terjadi karena saya memang berada dalam masa liburan dimana bangun siang dan mandi sekali sehari adalah kewajiban. Mungkinkah kadar santai itu tetap sama saat saya tidak sedang liburan? Entahlah, tapi ada kalimat terkenal tentang Bali: everyday is holiday in Bali! Mungkin ia bisa memperjelas.

Saya lalu membayangkan soal hari-hari di depan saya, membayangkan akan jadi apa saya. Akankah saya jadi robot yang dikontrol oleh kekejaman ibukota? Atau mungkin saya hidup di luar Jakarta dan bernafas dengan lebih relaks, dengan lebih santai? Sejak lama saya memang memimpikan tinggal di luar lingkup Jabodetabek, hidup dengan warna langit yang lebih biru, menghirup udara yang lebih segar. Tapi toh itu baru sebatas harap, realita belum tentu sejalan dengannya.

Tapi saya punya kredo lain. Santai yang ada dalam diri saya bukan sekedar sikap, ia telah menjadi sifat. Olehnya segala tekanan terasa tak begitu menekan, meski situasi kadang memojokkan. Begitu pula ketika suatu saat saya harus membanting tulang di ibukota, saya tahu saya punya cara berbeda untuk menjadikannya seperti Bali. Hingga suatu waktu saya toh percaya saya takkan tahan juga dan berontak, keluar dari hingar bingar ala Jakarta.

Orang Korea tadi mengaku kini hidup lebih bahagia di Bali. Tapi ia tetap tak melupakan Jakarta sebagai ruang yang mengajarinya sesuatu tentang kehidupan. Di bawah matahari pulau dewata, dan hembusan angin pesisir, ia dapat menemukan dirinya menjadi lebih santai dan bukan robot yang patuh pada remote control. Saya coba membayangkan wajah saya dalam kata-kata orang Korea itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s