River Plate

Pagi ini saya bangun terlalu pagi. Seperti biasa saya menenggak segelas susu coklat lalu kembali ke tempat tidur mencoba lelap kembali. Tapi gagal. Saya bangun lagi dan pindah tiduran ke kursi di ruang tengah sambil membaca lembar demi lembar sebuah tabloid olahraga nasional. Waktu tak terasa bergulir di atas tiap kata yang saya baca. Hingga akhirnya saya ditibakan di suatu artikel tentang River Plate.

River Plate adalah klub legendaris Argentina yang membuat berita mengejutkan beberapa waktu lalu. Sebagai klub tersukses di negeri Evita Peron itu, mereka harus merasakan degradasi pertama sepanjang sejarah klub. Dengan emosional ribuan fans menangis mengiringi kehancuran tim pujaannya. Karena sepak bola di Argentina dianggap sama seperti agama, saya jadi memahami bagaimana rasanya menjadi fans River. Terlebih saya pernah merasakan sendiri momen saat klub favorit saya, Juventus harus didegradasi oleh ketidakadilan bernama Calciopoli.

Artikel di tabloid itu bercerita soal masa depan River pasca-degradasi. Seluruh komponen klub berkomitmen untuk membawa klub tersebut kembali ke divisi teratas secepatnya. Pelatih baru ditunjuk, pemain-pemain pilihan pun diboyong untuk segera mengembalikan nama baik klub berjuluk Los Millonarios itu. Dan suatu informasi dari artikel tersebut sungguh menggetarkan saya yang masih dibuai kantuk dan malas.

Fernando Cavenaghi, yang merupakan jebolan River Plate, meminta kontraknya di Bordeaux diputus. Terasa luar biasa ketika seorang pemain yang bermain di salah satu liga terbaik dunia rela untuk memutuskan kontraknya dan kembali ke klub yang dicintai, ke klub yang membesarkan namanya, ke klub yang hanya bermain di kompetisi kasta kedua. Selain Cavenaghi, Alejandro Dominguez yang bermain di Valencia pun melakukan hal yang sama.

Saya pun jadi ingat saat momen Juve dijatuhkan ke Serie B. Beberapa pemain seperti Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Pavel Nedved, Giorgio Chiellini, David Trezeguet, dan beberapa nama lain, rela untuk tetap bertahan di Juve meski hanya bermain di Serie B, padahal beberapa nama berstatus juara dunia. Meski ditawari uang dan prestise lebih dari klub lain, mereka tak terpengaruh seperti beberapa pemain lain yang pindah bahkan berkhianat dengan pindah ke klub rival.

Di tengah hingar bingar sepak bola yang sangat meriah dengan gelimang uang yang menyilaukan, apa yang dilakukan beberapa pemain diatas ibarat oasis di tengah padang pasir.  Sepak bola ternyata masih menyisakan elemen cinta dan kesetiaan di tengah himpitan arus ekonomi dan industri yang merajalela mempengaruhi sepak bola. Sebagai suatu anomali, mereka bisa jadi panutan yang sempurna. Saya pun jadi percaya lagi bahwa cinta sejati itu ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s