Motor

Mengendarai motor di jalanan Jabodetabek adalah sebuah kesenian. Seni tentang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seni ini seperti halnya seni-seni lain bisa dikuasai dengan terus melakukan latihan, mengalami terus menerus, dan berjiwa kreatif serta inovatif. Saya tak ingat kapan pertama kali ditahbiskan jadi seniman jenis tersebut.

Motor memang semakin banyak tiap harinya. Kebutuhan akan mobilitas di tengah masyakat yang bergerak menjadikan motor jadi semacam properti yang harus dipunyai. Kemudahan memiliki motor juga menjadikannya semakin marak. Dapat dikredit dengan murah dan tersedia dimana-mana. Sebuah paduan sempurna antara kebutuhan dan kesempatan emas.

Di kota besar seperti Jakarta, motor adalah nafas bagi masyarakat kelas menengah yang memburu kesempatan bertahan hidup di rimba Jakarta. Di tengah kemacetan yang tak logis, motor bisa jadi solusi mempercepat waktu tempuh ditengah desakan mobil dan ketidakpastian jadwal transportasi umum. Meski begitu, kadang motor bisa tak berkutik juga di jalanan ibukota.

Sementara itu, di kota-kota yang lebih kecil, motor juga nafas yang mesti terus dihembus. Ia jadi penting karena transportasi umum kadang tak luas areal operasinya, sementara jalan kaki bukan lagi sebuah pilihan. Di desa, tren kepemilikan motor menanjak. Jarak tempuh dan kontur geografis yang kadang menjauhkan perjalanan bisa dipersingkat dengan keajaiban bernama motor.

Sebagai sebuah penemuan, motor tak berhenti memperbaiki diri. Baik dari segi teknis maupun dari segi sosiologis dan ekonomis. Pemahaman akan pasar dan kondisi masyarakat menjadikan motor terus berbenah, mulai dari improvisasi bagian mesin dan perangkat dalam lain maupun inovasi dalam hal desain dan promosi.

Saya sendiri tak tahu mesti mendukung atau tidak terhadap membludaknya populasi motor. Di satu sisi ia terlalu banyak, di sisi lain ia bagian integral dalam kehidupan orang-orang. Saya bingung. Toh saya tak perlu terlalu memusingkannya. Sebagai kuas, motor harus tetap melukis dan berkesenian dalam rangka mewarnai kanvas kehidupan, di desa, di kota, dimanapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s