Ramadan

Tiap setahun sekali umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa yang diadakan tiap bulan Ramadan, suatu bulan dalam sistem penanggalan hijriah. Dalam bulan penuh hikmah itu, umat Islam harus berpuasa makan dan minum sejak subuh hingga maghrib. Selain itu, mereka juga dituntut untuk menahan segala hawa nafsu. Katanya sih seperti itu, maklum saya tidak berpuasa.

Sejak kecil saya yang menganut agama lain memandang bulan puasa sebagai sebuah keunikan. Terasa sangat berbeda. Kebetulan nenek saya yang tinggal satu rumah juga menjalankan puasa, saya pun seolah turut merasakan irama dan aroma bulan Ramadan. Kini saat beranjak menjadi mahasiswa tahun ketiga, bulan Ramadan tetap menarik perhatian.

Saat sore hari menjelang berbuka puasa adalah momen menarik. Saya seringkali meluncurkan kendaraan mengelilingi secuil kota, menikmati fenomena ngabuburit. Menjelang berbuka, jalanan mendadak jadi sempit, terlebih di areal dimana banyak pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Saya seperti melihat sebuah pesta, sebuah tradisi, sebuah ritual. Meski saya tak tahu pasti apakah mereka yang berpuasa menjalankan puasa dengan benar sesuai ajaran agamanya, yang pasti momen bulan Ramadan patut dinikmati. Bagi umat Islam sebagai momen untuk mendekatkan diri pada Tuhan sebelum kembali ke fitrah. Dan bagi saya yang menikmati dari sudut yang lain.

Saya sebagai penonton saja, bukan sebagai pelaku, menikmati pesta tersebut. Entah apakah mereka yang melakukannya juga menikmati seperti saya. Karna terkadang saya pikir untuk menikmati sebuah pesta, ritual, tradisi, acara, atau hal-hal lain, kita akan lebih menikmati saat menjadi penonton dan tak menjadi bagian dari pesta, ritual, atau acara tersebut.

Saya lalu teringat suatu siang di Toraja. Siang itu sedang ada acara bernama Mangrara Banua, sebuah ritual “mendarahkan rumah” yang merupakan bagian tradisi Toraja. Sebagai bagian dari keluarga yang melaksanakan acara tersebut, saya cukup menikmati. Tapi ketika saya coba tempatkan diri sebagai turis atau pelancong yang ikut menyaksikan, acara tersebut terasa lebih nikmat lagi.

Seru memang menjadi penonton, termasuk di bulan yang suci ini. Melihat teman-teman menahan haus dan lapar, mendengar keluhan mereka. Melihat orang lalu lalang dijalan demi berburu hidangan buka puasa, juga melihat pedagang berlomba menyajikan variasi yang indah untuk diletakkan di meja makan saat magrib. Ah, menonton memang terasa lebih mudah dibanding melakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s