Belanja

Di suatu antrian di sebuah minimarket saat sedang membayar barang belanjaan, pikiran saya terbang ke sebuah momen lain jauh di pulau lain. Momen itu terjadi kurang lebih satu tahun lalu di Bandar Udara Eltari, Kupang. Saya sedang menunggu check-in untuk terbang ke Makassar saat seorang nenek membuka percakapan.

Nenek tersebut berasal dari Maros. Ia hendak menuju Maros dengan terlebih dahulu terbang ke Makassar, yang berarti ia akan satu pesawat dengan saya. Selain kami berdua, saat itu ada juga seorang ibu dengan dua orang anak lelakinya yang masih kecil. Nenek itu berbincang dengan saya sambil berbincang juga dengan ibu dari dua anak itu.

Satu dari dua anak ibu itu cukup aktif, banyak bergerak, dan tampak merepotkan sang ibu. Anak yang lain agak lebih diam, tapi tetap seorang anak kecil yang bergerak. Anak yang saya sebut pertama tadi rupanya gemar jajan. Beberapa kali ia merengek bahkan menangis untuk dibelikan sesuatu oleh ibunya. Si ibu tak berdaya, daripada melihat anaknya menangis, ia selalu mewujudkan keinginan si anak.

Saat itu nenek asal Maros itu berbicara, sedikit meramalkan, atau mungkin hanya melantur asal bicara. Entahlah. Ia bilang bahwa anak yang suka jajan biasanya akan mudah mencari uang. Ia menambahkan dengan mengganti subjeknya. Ia mengatakan bahwa orang yang suka belanja adalah orang yang pintar cari duit. Saya menunduk sedikit berpikir.

Pertama saya berpikir tentang diri sendiri. Saya bukan orang yang sangat suka jajan. Juga bukan orang yang kegirangan saat mendengar kabar diskon besar-besaran. Dengan mengacu pada premis yang dikatakan nenek tadi, saya adalah orang yang tak pintar mencari uang. Saya sedikit gemetar, khawatir. Tapi kemudian tenang karena sadar saya bukan orang mudah diramalkan.

Lalu pikiran saya berkelana lebih jauh. Mengapa orang yang suka mengkonsumsi adalah mereka yang mudah mendapat uang? Saya bingung dan terpaku. Mungkinkah karena orang konsumtif selalu merasa berkebutuhan untuk mempunyai uang untuk memuaskan hasrat konsumsinya, dan oleh karena itu mereka pintar menyiasati untuk memperoleh pundi demi keinginan untuk membeli?

Entahlah. Tapi dari situ terlihat bahwa uang sedang berputar. Orang mendapat, orang membuang. Seperti sebuah siklus musim tani dan musim panen. Ketika uang berputar semua orang tersenyum. Ada yang senyum menikmati lembar rupiah, ada yang senyum menikmati barang belanja. Tapi kita tak tahu siapa yang tersenyum paling lebar. Mungkin ia yang ada diluar putaran tersebut.

Lamunan saya tercerai berai. Nenek asal Maros itu masih terus meracau entah tentang apa kepada saya dan ibu muda tadi. Saya pun masih mengantri di depan kasir untuk membayar barang di keranjang belanja. Entah apakah yang saya beli ini adalah tuntutan kebutuhan atau hasrat untuk mempunyai. Kadang keduanya membaur bagai warna laut yang dipantul hutan bakau.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s