Tiba-tiba

Semua datang tiba-tiba. Kita memang bernafas dalam hidup yang serba tiba-tiba. Hidup dimana prediksi dan pola umum sesungguhnya hanya mitos. Dan rencana matang cuma sekedar formalitas yang menipu. Sejak ayah dan ibu membentuk kita lewat cinta, hingga kematian menjemput suatu waktu nanti, semua itu datang begitu saja tanpa rencana, tanpa permisi. Kita kadang hanya tertegun memandangi semua yang terlewat.

Begitulah kehidupan. Tapi mungkin justru itulah yang membikin hidup seru dan asyik. Semuanya tak tertebak seperti pacuan kuda, bahkan kadang tak mampu diatur layaknya babi-babi. Tiap paginya kita disuguhkan satu teka-teki baru yang mesti dipecahkan, siang dan malam hari kita diberi misteri untuk diungkap. Kita memang dituntut kreatif untuk dapat menjawab segala tanya tentang hidup, meski tak semua pertanyaan punya jawaban.

Karena sifatnya yang serba tiba-tiba, orang lalu berpikir untuk mengatasi hidup seperti itu. Mereka merancang, merencanakan, dan membuat aturan untuk membuat hidup seakan teratur, seakan semuanya telah disusun sedemikian rupa dengan baik. Tapi kita gagal. Yang empunya kehidupan tetap tak bisa diatur, Ia ternyata lebih suka hidup tak teratur. Ia mungkin lebih suka manusia tinggal di dunia dalam ketidakpastian yang pasti. Dari situ, Ia ingin ajari manusia untuk bergantung padaNya.

Aturan dibuat untuk dilanggar, musim hujan dan musim kemarau sudah tak berpola, rencana-rencana tak pernah jalan sempurna, homoseksual dimana-mana, semuanya menunjukkan bahwa kehidupan harusnya tak perlu tertata. Justru dari kesemrawutan dan ketiba-tibaan hidup sebenarnya lebih dapat dinikmati. Hidup itu 99% ketiba-tibaan dan 1% rencana. Ungkapan “manusia berencana, Tuhan yang menentukan” ada benarnya.

Saya menulis ini mungkin karena frustasi atau lelah merencanakan segala sesuatu. Semua yang terencana tak pernah hadir secara sempurna. Kadang berjalan, hanya separuh. Kadang gagal total. Saya lalu menyerah dan berpikir tak perlu berencana lagi. Biarkan takdir yang berbicara lewat titahnya yang misterius, lewat tangannya yang penuh sulap. Saya putuskan berjalan di tengah keasingan, sendiri, tak menuju mana-mana.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s