Calciopoli

Skandal pengaturan skor yang pada tahun 2006 menghebohkan jagat sepakbola internasional, apalagi di Italia. Juventus dengan Luciano Moggi-nya menjadi sosok sentral dalam kasus ini. Keduanya dihukum paling berat. Moggi, sang guru transfer hebat itu, dihukum 5 tahun tak boleh berkecimpung di sepak bola. Juventus diturunkan ke Serie B, degradasi pertama sepanjang sejarah klub.

Saya ingat pagi ketika terbangun dengan berita vonis hukuman degradasi terhadap Juve. Hari itu dunia seakan runtuh. Pagi jadi segelap malam, siang seperti hilang, malam eksis lebih lama. Entah saya ingin menangis atau kecewa, atau ragu, atau mungkin bingung, entahlah semuanya bercampur aduk. Hal itu merupakan salah satu momen paling buruk dalam hidup saya. Hari yang mengubah banyak hal.

Beberapa pelaku lain, atau mungkin juga korban, hanya divonis beberapa hukuman yang tak lebih berat dari kedua pihak diatas. Calciopoli jadi perdebatan yang menarik, panas, kontroversial, dan mungkin agak curang. Di kalangan Juventini, calciopoli sering disebut sebagai farsopoli. Sebutan itu merupakan ejekan fans Juventus terhadap skandal yang menurut mereka curang dan hanyalah rekayasa beberapa pihak, sebut saja Inter.

Disaat klub-klub lain terjerat calciopoli, hanya Inter yang dianggap bersih dan bahkan dikalungi sebuah scudetto hibah dari Juve. Agak lucu melihat fakta bahwa mereka satu-satunya yang bersih. Kelucuan itu tampaknya terbukti pada beberapa investigasi kemudian hari yang menemukan bahwa Inter ternyata juga melakukan hal-hal yang sama yang dilakukan para tersangka. Pengadilan bergeming.

Inter, sang suci tersebut, memang diduga terlibat dalam calciopoli ini. Bahkan ia ditengarai sebagai tokoh utama, sutradara yang mengatur semua untuk menjatuhkan pesaing-pesaingnya. Terbukti, setelah calciopoli, Inter merajai Italia beberapa tahun berturut-turut karena memang tak ada lawan sepadan. Kini, 5 tahun setelah hukuman dijatuhkan, saat Juve telah kembali ke Serie A, Moggi yang hukumannya akan selesai justru dipukul lagi.

Moggi dihadapkan pada hukuman permanen, yaitu hukuman seumur hidup tak boleh beraktivitas di sepak bola. Hal ini menciptakan kelucuan lagi, sebuah kejanggalan. Orang yang tak sabar menunggu keluar penjara sedikit lagi, tiba-tiba dimasukkan lagi ke pengadilan dan dihukum lagi, bahkan lebih berat. Rancangan siapa lagi ini? Juventini mengutuk berbagai pihak: pengadilan Napoli, Inter, dan FIGC.

Semuanya seolah bersekongkol dalam skandal ini. Banyak bukti yang memberatkan Inter tak dihadirkan dalam persidangan, entah lupa atau ditutup-tutupi. Segala kemunafikan dan tindakan tak sportif ini menunjukkan bahwa sepak bola kini kejam, seperti politik. Saya tak tahu harus bilang apa, saya pun tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah waktu yang bicara ketika hukum dan keadilan telah bisu.

Time will tell.

Advertisements

One thought on “Calciopoli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s