Tujuan

Apakah hidup perlu tujuan? Mungkin semua akan menjawabnya dengan anggukan kepala. Tapi saya punya pandangan yang agak berbeda. Bagi saya hidup tak selalu harus memiliki tujuan. Pandangan bahwa hidup harus punya tujuan adalah konstruksi sosial yang terlanjur mengakar hingga mana-mana dan ditanamkan dari generasi  ke generasi. Orang jadi percaya, atau mau tak mau harus percaya, bahwa hidup harus memiliki destinasi.

Sebenarnya kita bisa merubuhkan konstruksi tentang pandangan itu. Hidup dengan tujuan mungkin dianggap sebagai model hidup yang fokus dan terarah pada satu titik. Hidup  ibarat sebuah perjalanan dimana orang menuju sebuah tempat yang pasti dan jelas, dan sekali-kali tersasar. Namun, dalam sebuah perjalanan dengan tujuan yang sudah jelas, sesungguhnya kita tak pernah dapat merasakan esensi perjalanan itu.

Maksudnya adalah ketika sedang menuju tempat, kita seringkali melewati pemandangan atau kejadian yang ada di sekitar. Misalnya, saya sedang mengendarai motor dengan tujuan akhir kampus. Saat itu, saya fokus pada kampus dan melajukan motor tanpa sadar dan tahu apa saja yang terlewati di sepanjang jalan. Saya mungkin sampai di kampus tapi tak pernah tahu bahwa mungkin saya melewati toko roti, atau mungkin baliho besar. Saya tidak tahu, dan memang tak peduli. Yang dipedulikan hanya tujuannya.

Terkadang dalam menjalani hidup dengan tujuan kita juga seperti itu. Kita fokus pada tujuan namun sesungguhnya tak menikmati kehidupan dan segala teka-tekinya. Kita terlanjur terbius doktrin tentang cita-cita dan harapan dan melupakan ajaran tentang menikmati hidup secara utuh. Mungkin bisa saja saat mengendari motor saya melajukannya dengan pelan dan tetap bisa menikmati hal-hal di sepanjang jalan. Tapi akankah utuh?

Dalam metafor tentang perjalanan, kenikmatan sebuah perjalanan mungkin bisa diresapi dengan penuh saat kita tak punya tujuan. Kita hanya berjalan tanpa tahu apa yang dituju. Kita betul menikmati sekitar karena tak terbelenggu oleh pikiran tentang kemana tujuan kita. Berjalan, berputar-putar, dan kadang tersesat. Kita jadi tahu pasti apa yang kita lalui, kita jadi dapat meresapi makna dari perjalanan bernama hidup.

Cara lain agar dapat menikmati perjalanan adalah kita tak usah mengemudi. Kita duduk sebagai penumpang, misalkan di jok motor bagian belakang, kita tak menyetir. Kita bisa puas melihat dan menikmati apa yang terlewat sepanjang jalan karena tak berpikir tentang tujuan. Biarkan yang mengemudi saja yang memikirkannya. Mungkin dalam hidup kita hanya perlu menjadi penumpang saja dan tak perlu menyetir. Asal kita pilih supir yang handal, kenikmatan hidup pun tercicip sempurna.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s