Mati

Mati adalah satu-satunya yang pasti dalam hidup yang penuh ketidakpastian. Atau mati bukan bagian dari hidup? Entah. Yang jelas mati itu keniscayaan yang tak bisa ditawar, bahkan oleh seluruh materi di dunia. Berpikir tentang kematian terkadang terasa absurd. Tapi apa yang tak absurd di dunia?

Sudah terlalu banyak orang yang bicara soal mati. Saya mungkin akan merangkum apa yang saya tahu, atau mungkin akan membikin pemahaman sendiri yang unik. Tapi itu tak ada bedanya. Kita memang suka sulit membedakan mana yang orisinil dari kita dan mana yang punya orang lain. Keduanya berbaur dalam ruang yang sama, yaitu kedirian kita. Mari kembali ke soal kematian sebelum terlalu jauh menyimpang.

Mati adalah sebuah puncak dan dasar laut. Titik tertinggi dalam kehidupan yang, dalam beberapa ajaran, akan membawa kita ke kehidupan lain, yang berarti sekaligus menjadikannya titik terendah. Mati adalah alfa dan omega, mungkin itu lebih mudah dicerna. Sebuah kematian adalah gairah bagi mereka yang menikmati hidupnya. Terkesan seperti ironi, tapi dengan mencintai hidup, orang juga mencintai mati.

Dengan menikmati kematian, manusia tak takut mati. Dengan tak takut mati, akan lebih santai menjalani hidup. Hidup santai kadang punya alasan menyangkut mati. Santai dapat terwujud karena kita menganggap apa yang kita hidupi nantinya juga akan hilang. Semuanya fana dan seolah tak berarti. Kita lalu akan lebih luwes mengarungi kehidupan setelah sadar semuanya tak abadi.

Mati bisa juga berarti kebebasan. Terbebas dari kehidupan dan segala warna-warninya. Mati hadirkan suatu rasa yang tak akan dirasakan. Rasa itu mungkin sebuah perasaan senang setelah keluar dari hutan rimba kehidupan. Mungkin sebuah kelepasan akan dahaga yang tak pernah terpuaskan selama hidup. Mati jadi pencapaian yang memang ditujukan. Dengan sadar bahwa mati adalah muara, kita akan tahu bagaimana akan berlayar.

Bicara tentang mati memang sulit. Sulit karena kita bicara tentang sesuatu yang bahkan kita tak tahu rasanya. Sama sulitnya bicara tentang Tuhan yang tak pernah kita lihat. Kita mungkin hanya dapat merasakan kematian orang lain, tapi takkan pernah merasakan kematian sendiri. Jadi mati mungkin juga ibarat membuat karya seni tapi kita tak pernah lihat hasilnya. Benda seni itu mungkin hitam dan gelap, tapi tetap indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s