Anak

Suatu pagi di bangku gereja saya melihat dan mendengar kumpulan anak-anak sekolah minggu bernyanyi. Nyanyian mereka tak terlalu lantang dan jelas. Nada pun entahlah. Tapi yang menarik dari situ adalah lebih dari sekedar irama ataupun suara. Anak-anak adalah mereka yang paling handal menikmati segala sesuatu. Jika mereka menyanyi, mereka menyanyi karena mereka ingin menyanyi. Riang, tanpa beban, dan sungguh tulus.

Kata Tagore “anak-anak adalah mereka yang mencintai debu”. Memang, anak-anak adalah makhluk paling bahagia. Kesukacitaan mereka sungguh total, tak dihalangi dan dibatasi oleh pikiran-pikiran. Makhluk yang tak peduli kotor, tak peduli bau, tak peduli basah karena hujan, tak peduli panas, tak peduli asap dan debu. Meskipun pendapat ini bisa dengan mudah dikritik apabila menengok anak-anak yang sedari kecil telah dihantui nasib buruk.

Tapi bagaimanapun, dimanapun, kapanpun, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka bukanlah dewasa yang pikirannya kompleks, ribet, dan dipenuhi berbagai doktrin tentang kehidupan dan isinya. Saya menyesal saat masih kecil punya perasaan ingin cepat besar, karena ingin bebas, karena ingin tahu hidup yang sebenarnya. Setelah sampai di fase yang lebih maju itu, saya jadi ingin kembali. Tapi waktu tak bisa diputar balik.

Ternyata semakin dewasa kita tidaklah semakin bebas seperti perkiraan kala masih kecil. Makin dewasa kita justru makin terkekang berbagai aturan, harapan, anggapan, dan terpenjara. Sungguh, anak-anak adalah tempat kita menemukan kebebasan yang paling lepas. Terlepas dari ketidakberdayaan melawan perintah orang tua dan diatur juga oleh orang lain, anak-anak tetaplah tahapan paling bebas dalam kehidupan.

Setelah dewasa, yang saya inginkan kemudian adalah menjadi tua secepatnya. Saya berpikir bahwa makin tua orang makin seperti anak-anak kembali. Intinya saya ingin kehidupan seperti seorang anak, yang tak curiga terhadap apapun, yang tingkah lakunya terwujud karena kesederhanaan pikiran, yang hidupnya tak dipenuhi detail-detail menyesatkan yang kadang justru mengaburkan segalanya. Tak semua yang diharapkan berubah jadi nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s