Buruh

Hari ini Mei mulai menunjukkan batang hidungnya. Dan Mei seolah ditandai dengan buruh. Tanggal 1 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, May Day. Hari ini mungkin sangatlah emosional bagi buruh-buruh, pekerja-pekerja yang tulangnya dibanting-banting, yang keringatnya menetes satu-satu, hanya untuk tetap hidup.

Makna buruh katanya bergeser. Katanya buruh dahulu dengan buruh sekarang punya pemaknaan yang berbeda. Saya lupa dengar darimana. Dulu, buruh adalah semua orang yang tidak mempunyai alat produksi. Jika mengikuti makna yang dulu, presiden juga buruh, hanya pengusaha-pengusaha yang tidak termasuk buruh.Sekarang buruh lebih identik dengan pekerja kasar, pekerja di pabrik-pabrik, pekerja dengan kerah biru.

Saya tak terlalu mengerti soal buruh. Tapi di hari ini saya jadi berpikir soal ini. Mungkin saya merasa sedikit iba memikirkan buruh-buruh yang berdemo di jalan-jalan hari ini. Saya mungkin kasihan pada pekerja-pekerja yang hari-harinya dihabiskan hanya demi menghasilkan barang yang tak pernah dinikmatinya. Apa yang disebut Karl Marx sebagai alienasi. Atau, saya mungkin kasihan pada diri sendiri.

Dalam memandang buruh saya tak hanya membatasi pengertiannya hanya pada para pekerja kerah biru. Bagi saya, buruh juga termasuk pekerja kerah putih. Kenapa saya iba pada diri sendiri? Mungkin karena saya akan jadi buruh suatu waktu nanti. Setelah lulus kuliah dan keluar dari penjara universiti, saya lalu akan digiring lagi ke penjara lain. Penjara itu tak lain adalah lapangan kerja. Penjara yang akan menjadikan saya buruh.

Dengan berpikir lewat filsafat eksistensialis, saya merasa saya bisa saja tidak menjadi buruh. Tapi dari sudut lain saya merasa pesimis. Saya telah diproses dalam suatu sistem, entah sistem apa, mungkin sistem kapitalisme, yang mengharuskan saya sekolah, lulus, lalu bekerja. Sistem ini juga yang mungkin dialami sebagian besar penduduk dunia. Manusia-manusia yang dari lahir telah terpenjara dan hingga mati akan terus dipenjara.

Buruh memang akan selalu ada. Perannya bisa dibilang penting dalam tuntutan kapitalisme global yang sekarang sedang melanda. Tapi persoalannya kemudian adalah masalah kesejahteraan buruh yang rendah, terutama di negeri ini. Itulah kenapa pada 1 Mei jalanan selalu ramai dengan protes. Protes yang mungkin akan kalah berisik dengan bunyi klakson-klakson mobil mewah yang tak sadar atau tak peduli bahwa mereka sedang menginjak-injak orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s