Solo Traveling

Travelling solo adalah istilah yang digunakan bagi mereka yang berpergian seorang diri, menjelajah negeri asing tanpa teman, sendirian dengan bekal kaki dan hasratnya berpetualang. Meski jalan-jalan sendiri bukan berarti benar-benar sendirian. Travelling solo tentu tidak sama dengan travelling alone. Dalam istilah travelling solo, kesendirian hanyalah alat untuk menemukan teman dan pengalaman baru dalam mencintai kehidupan dan isinya.

Bagi saya, membandingkan travelling solo dengan travelling bersama keluarga atau teman ibarat membandingkan menonton pertandingan Juventus dan pertandingan lain dimana tidak ada Juve. Mungkin saja pertandingan lain lebih seru dan menarik. Tapi melihat Juve bermain punya rasa dan atmosfir yang beda, meski mungkin tak terlampau seru seperti pertandingan liga Inggris.

Mungkin jalan-jalan bersama orang lain menjadi seru dan amat menyenangkan. Bercanda, berdialog, dan tertawa bersama-sama. Segalanya menjadi ceria, tak ada waktu untuk kesendirian. Tak ada tempat untuk kebosanan, karena tiap kali ada saja diskusi kecil untuk memecah keheningan. Tapi tipe travelling seperti itu tak memberikan rasa dan atmosfir yang hanya didapat dengan travelling solo.

Mungkin jalan-jalan sendiri membosankan, kita banyak melamun dengan angan terbang entah kemana. Kita banyak berdiam, duduk sambil menikmati langit senja. Kita biarkan diri dibunuh kesepian bahkan di tengah hingar-bingar. Tapi mungkin suasana macam itulah yang dicari. Suatu kesendirian mutlak. Sebuah kebebasan puncak. Atau mungkin rasa-rasa lain yang tak bisa diungkap kata.

Toh, jalan-jalan sendiri tidak berarti menjadi sendiri secara total. Selalu ada interaksi dengan orang asing, meski mungkin tanpa kata, hanya gerak-gerik tubuh penuh makna. Kita juga selalu butuh orang lain dalam bertualang, orang-orang asing yang bisa jadi peta bicara, orang lokal yang bisa jadi guru sementara. Kita tak benar sendiri. Kita hanya jadi asing. Dan jadi asing itu seru.

Saya jadi ingat sepenggal bagian dalam novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Ia menulis bahwa orang yang biasa terikat bersama dengan orang lain cenderung menginginkan orang lain itu “menuruti” tiap kehendaknya. Ingin orang lain itu seperti yang diinginkannya. Dan itu terjadi secara timbal balik. Kecewa lalu hadir ketika tak semua yang kita ingin menjadi kenyataan, lagipula siapa yang mau diatur orang lain.

Oleh karenanya, itulah kenikmatan menjadi asing. Kita tak terikat dengan orang lain, kita tak tahu siapa mereka. Kita berlaku sebebas kita mengingkan apapun, kita tak harus “patuh” pada harapan orang lain. Dan itulah yang mungkin didapat dari travelling sendirian. Sebuah kebebasan menjadikan diri sendiri sebagai komoditi pribadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s