Puisi

Saya lahir dari puisi. Mungkin karena itu saya suka puisi. Ayah saya merayu ibu saya lewat barisan kata dan rasa yang tumpah dalam kertas bertajuk “puisi untukmu”. Dan itu tak hanya satu, berkali-kali hingga puisi tak sekedar kalimat mati. Puisi jadi hidup karena diberi nafas oleh sulap paling terkenal di dunia. Namanya cinta.

Saya lahir dari puisi. Mungkin karena itu saya suka bermain dengan kata. Menyusun kata-kata kedalam tatanan yang indah meski belum tentu benar. Karena puisi memang bukan benar dan salah. Puisi bukan skripsi. Puisi adalah kejujuran yang tumpah dari jiwa yang tak terbendung. Atau mungkin sungai yang arus aliran airnya tak menentu, tak punya arah, tapi hidup dan menghidupi organisme yang hidup didalamnya.

Dari puisi, yang acak, yang tak perlu menurut pada metodologi, kita belajar bahwa keindahan selalu samar. Yang indah bagi satu orang belum tentu indah bagi yang lainnya. Oleh karenanya menikmati puisi tak perlu dengan pikiranmu yang terlanjur disesaki ilmu pengetahuan. Ilmu yang memamerkan dirinya sebagai jawaban atas misteri dunia, padahal gagal. Ia tak bisa seperti puisi, menembus kedalaman terdalam yang hanya bisa ditembus oleh sepotong sajak tulus.

Kata suatu bait dari puisi ayah saya, “puisi jangan diharap dapat mengubah seseorang, paling ia dapat mengubah penciptanya”. Jadi membikin puisi tak perlu pemikiran yang teramat rumit. Mungkin hanya butuh sedikit perenungan dan kesabaran untuk menjadi jujur, lalu menumpahkan dalam lautan bahasa. Demikian juga membaca puisi orang, kita tak perlu buru-buru mencari makna yang sesuai. Kita hargai puisi yang kita baca itu sebagai suatu kejujuran ekspresi dari penyairnya.

Sudah saya katakan, saya lahir puisi. Mungkin karena itulah saya memilih untuk menikmati puisi di kala kebosanan menghujam di ruang kuliah. Saya punya limit untuk menikmati ilmu, dan saya baringkan batas itu dalam langit puisi yang berbeda. Mengajari saya bahwa ilmu yang agung dan elegan itu belum tentu jadi jawaban. Karena kadang kita tak butuh jawaban dalam kehidupan. Mungkin hanya perlu keikhlasan menikmati hidup tanpa tanya. Seperti baris-baris puisi yang polos.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s