Lampu Merah

Lampu merah itu tempat merenung yang paling baik ditengah kebisingan dan keburu-buruan. Ia yang berikan istirahat bagi pengelana jalanan yang kucel dan lusuh, ia yang berikan waktu bagi tiap pengendara untuk sadarkan diri bahwa sedang dalam suatu perjalanan. Karena kadang, di atas motor atau di dalam mobil, orang tak sadar sedang melakukan perjalanan. Fokus mereka hanya pada tujuan, bukan proses menuju tujuan.

Di lampu merah terkadang kita baru sadar sedang di tengah jalanan, kita baru sadar sudah berjalan sejauh mana. Mungkin ini agak abstrak dan sulit dimengerti, tapi mungkin pengalaman bisa menerangkannya. Lampu merah yang memaksa orang berhenti adalah sebuah anugrah, atau kadang juga hambatan. Dan begitulah seperti hal-hal lain di dunia, selalu ada sisi yang baik dan buruk dari sesuatu. Tergantung masing-masing menyikapinya.

Lampu merah adalah anugrah karena olehnya pengendara bisa beristirahat, meregangkan tubuh dan kaki sejenak. Meski itu mungkin tak berlaku di Jakarta. Tempat dimana setiap 1 meter jalan bisa jadi semacam lampu merah. Tapi sudahlah, saya sudah terlalu sering mengutuki Jakarta, saya bosan. Kembali ke lampu merah. Lampu merah punya makna untuk menyuruh orang berhenti. Dan mereka memang berhenti, kebanyakan, dan sebagian coba jadi jagoan, menerobos aturan, mengundang malapetaka dunia dan akhirat.

Di lampu merah seharusnya kita tak berhenti untuk satu hal: berpikir. Belajarlah selagi di lampu merah, merenungi apa saja yang terlintas di pikiranmu yang sunyi meski lalu lintas bising meraung disekitarmu. Kita punya waktu beberapa detik untuk merenungi sesuatu, apa saja, banyak hal. Dan saya jadi ingat sebuah tulisan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir di tahun 1980-an.

Dia tulis tentang klakson. Suatu fenomena lain di lampu merah. Klakson ia ibaratkan sebagai kuasa. Jalanan adalah analogi untuk kesempatan. Jalanan itu sempit, terbatas, dan begitu pula kesempatan. Terbatas dan sempit. Makanya, tulisnya lalu, orang pakai klakson, pakai kuasanya, untuk merebut tiap kesempatan dalam kesempitan. Lalu jalan jadi bising termakan auman klakson-klakson pemburu kesempatan. Kesempatan yang saya yakin banyak berbentuk materil.

Dan memang yang terjadi seperti itu. Di lampu merah, klakson adalah sebuah kewajiban yang muram. Padahal bisa saja kita tak bunyikan klakson, kita tak berisik. Tapi kenapa kau berceloteh wahai mobil tua berklakson fals? Sejak membaca tulisan itu saya belajar untuk menahan tangan menekan tuts klakson. Tiap di lampu merah saya teringat tulisan itu. Saya teringat janji saya. Saya teringat bahwa kita tak perlu buru-buru. Santai saja kawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s