Fans

Sepakbola adalah sensasi peradaban manusia. Siapa yang menyangka tendang-tendangan kulit bundar bisa jadi populer, heboh, dan penuh daya hipnotis? Itulah sepakbola yang fantastis itu, yang bahkan versi sejarahnya diperebutkan beberapa negara. Inggris mengklaim sebagai rahim sepakbola modern, Cina pun mengaku demikian. Tapi kita kadang perlu mengenyampingkan sejarah karena lika-likunya yang penuh tipu.

Sebagai sebuah permainan di atas lapangan rumput yang dimainkan 22 orang memperebutkan sebuah bola, sepakbola ternyata tak sesederhana itu. Terlebih di era ini, dimana sepakbola tak sekedar jadi sebuah cabang olahraga, tapi juga suatu industri yang menggiurkan. Pemain sepakbola tak lagi 22 orang yang berlarian di atas lapangan, tapi juga orang-orang lain yang membangun atmosfer sepakbola yang heboh, yang berisik, yang unik. Mereka adalah fans.

Merekalah nyawa sepakbola modern, jiwa dari permainan dan pemain-pemain. Mereka yang berteriak dan bernyanyi sepanjang 90 menit, atau yang mengamati tanpa lepas pandang dari layar kaca, adalah alasan kenapa sepakbola jadi industri yang maju pesat.  Fans atau suporter adalah orang-orang yang menikmati sepakbola secara garis besar dan mencintai suatu klub atau tim pada skala yang lebih kecil. Meski fans pun punya tipenya masing-masing.

Saya tak tau apa sajakah tipe-tipe itu. Tapi secara sederhana bagi sajalah menjadi dua: suporter sejati yang benar-benar mencintai suatu tim pujaannya dan suporter karbitan yang ikut-ikutan arus, hatinya tak tulus mencintai suatu klub. Mereka yang ikut-ikutan sering disebut sebagai glory hunter, fans yang hanya suka tim yang berada di puncak kemapanan dan prestasi. Fans sejati adalah mereka yang darahnya sama warnanya dengan warna klub idolanya.

Sepakbola mungkin satu-satunya olahraga dimana penggemarnya menyebut tim pujaannya dengan sebutan “kita”. Sebutan itu mengacu bahwa klub idola yang berada di seberang lautan sana merupakan bagian dari dirinya juga, bagian yang tak terpisah dari kehidupannya. Dan rasa memiliki itu pun didapat dengan menjual hati pada sejarah klub, baik buruknya. Fans, dalam hal ini fans sejati, adalah mereka yang menangis kala timnya kalah atau terpuruk, dan girang bagai gila ketika timnya menuai prestasi-prestasi gemilang.

Fans adalah mereka yang tak perlu alasan untuk suka pada sebuah klub, yang cintanya tak bisa dibeli dengan piala.  Bahkan banyak yang menganggap bahwa klub idola adalah pacar pertama, atau lebih ekstrim ada yang menganggapnya sebagai agama. Sepakbola memang sensasional dan akan selalu begitu. Juga fans. Salut buat seluruh fans di tiap belahan bumi, terlebih mereka yang mencintai tanpa pamrih dan sepenuh hati, mereka yang hatinya terlebur bersama tim idolanya. Bukan piala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s