Baliho

Keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mata memandang Jakarta lagi. Setelah beberapa hari dimanja warna warni kota yang lain. Yang mungkin tak semewah Jakarta, mungkin tak sehebat Jakarta, tapi ada nyaman yang tak bisa dijumpai di Jakarta. Entah apakah nyaman itu. Mungkin udara, mungkin budaya, mungkin manusia, atau entahlah. Tapi mungkin sebuah baliho punya cerita.

Mulai memasuki wilayah ibukota, bis Damri melintas melewati sebuah baliho di pinggir jalan yang berteriak, atau mungkin sekedar berbisik: “welcome to Jakarta!” Dan memang benar, Jakata dimulai dari situ. Gedung-gedung mencakar langit, bising mulai meraung, polusi datang bagai hujan badai. Jakarta memang bukan tempat yang ramah bagi jiwa-jiwa kuno yang rindu wangi alam nan kental. Tapi Jakarta bagai godaan yang tak sanggup ditolak, terkadang.

Baliho itu, pun beserta baliho-baliho lain yang memenuhi ibukota jadi aktor lain yang tak kalah penting. Merekalah yang menebangi pepohonan hijau mententramkan, dan dengan gagah berdiri menjajakan diri di pinggir jalanan. Mereka menawarkan apapun bagi mereka yang lapar akan konsumsi, juga bagi mereka yang sudah kenyang namun tak urung usai. Baliho jadi simbol penjajahan terhadap orang-orang kota nan intelek itu. Siapa penjajahnya? Siapa lagi.

Baliho mungkin memang bagian integral dari arsitektur sebuah kota yang sedang bergerak maju. Hiasan di pinggir jalan yang punya warna warni elok, penuh seni kreasi jaman modern, dan lambang bahwa kini kreativitas bisa pamer besar-besaran di tengah debu dan berisik. Baliho jadi penting, karena tanpanya jalanan jadi sekedar jalanan, tempat mobil melaju dan berdesakkan dengan mobil lainnya.

Baliho pun kadang bisa berfungsi dalam gayanya yang lain. Ia adalah hiburan bagi keringat-keringat yang lelah didera macet tak berkesudahan. Baliho bisa jadi semacam relaksasi sekilas bagi petualang ruas jalan kota yang sibuk. Dan oleh karenanya dia harus diapresiasi, sekali-kali. Walau ia lupa, ia mungkin juga punya pengaruh pada penghuni jalanan lainnya. Yaitu mereka yang hidup dalam keras jalanan, tanpa rumah, tanpa apa-apa, mereka cuma punya baliho untuk dipandang.

Hanya dipandang. Mereka tak sadar baliho yang mereka pandangi kagum-kagum itu adalah pembunuh mereka. Papan besar itu bisa jadi yang menjebloskan mereka dalam penderitaan di jalanan, hidup bersama debu dan ribut klakson. Mereka teraniaya oleh apa yang ditawakan baliho itu, meski sadar tawaran itu bukan untuk mereka. Namun untuk orang lain yang tak hidup di jalan, yang punya akses, dan yang lupa saudara mereka dari jalanan itu kurang beruntung dan hanya bisa memimpikan pesan-pesan manis dalam baliho.

Itulah kota. Tempat dimana saudara itu tidak ada, yang ada hanya musuh. Colosseum bagi gladiator-gladiator masa kini yang bertarung hanya bagi kepentingan sendiri, dan tak ingin tau-menau nasib manusia lain. Ini kota, terlebih Jakarta, yang jadi pertaruhan hidup orang-orang satu negeri ini. Baliho-baliho pun sebenarnya tak ambil pusing, ia hanya berdiri disitu dan pamer, sambil sesekali melirik ketidakadilan yang terlukis dibawah kakinya yang gagah namun kotor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s