Rumah

Where are we really going? Always home.

Demikianlah kata-kata penyair Novalis yang saya temukan di novel Hermann Hesse, Journey to the East. Novel yang saya pikir merupakan usaha pelarian sang novelis menuju tempat yang orang sebut dengan “timur”. Entah apakah “timur” itu? Mungkin hanya sebatas mata angin atau mungkin lebih dari itu, mungkin menuju perenungan atas hancur leburnya Eropa pasca perang dunia.

Hesse menulisnya bagai fiksi yang tumpah dari imajinasinya. Sebuah petualangan imajinatif sang penulis menuju “timur”. Petualangan penuh cerita yang mungkin cara Hesse untuk menghindari bunuh diri. Ya dengan menulis orang bisa hindari bunuh diri. Semua alasan untuk menghabisi nyawa sendiri hilang seketika dalam padang tulisan yang tercurah di atas kertas putih bersih yang jadi kotor, penuh ide dan aksara.

Tapi saya tak ingin berpikir tentang Hesse atau novel itu secara keseluruhan. Saya tertarik pada kutipan Novalis yang saya tulis di awal tadi. Katanya, “tiap jiwa yang pergi selalu menuju rumah.” Kini pikiran ditarik oleh kata ‘rumah’. Apakah ‘rumah’ itu? Sekedar bangunan tempat bernaung melindung diri dari ketidakpastian alam? Atau suatu suasana, yang dicipta dan tercipta untuk sebuah keharmonisan, untuk kedamaian?

Dan ‘rumah’ dalam kutipan itu tak bisa lepas dari kata ‘pergi’. Saya mencium bau sebuah proses pencarian akan imaji ‘rumah’. Pencarian ini mungkin sering dialami oleh mereka yang suka berkelana, berpergian, mencari dunia, memandang bumi-bumi bagian lain. Para pengelana dan petualang yang tak punya rumah dalam pengembaraannya tersebut pun dihujani kerinduan akan bayangan ‘rumah’.

Mereka yang berupaya keluar dari kenyamanan kamarnya dan mencari ketidakpastian hidup di luar rumah, namun ternyata mendamba ‘rumah’ dalam perjalanannya. Oleh karenanya, mereka, para pengelana ruang itu umumnya tak betah untuk tinggal hidup dalam suatu tempat dalam rentang waktu yang lama. Paling tidak hanya hitungan hari, atau minggu jika mungkin, tergantung masing-masing persona.

Dalam menetap sementara di suatu tempat, mereka mencari ‘rumah’, dan berharap tempat mereka menetap sementara itu bisa menjadi ‘rumah’. Tapi ternyata tidak. Oleh karenanya mereka pergi lagi dan mencari tempat lain yang mereka harap lagi untuk jadi ‘rumah’. Tapi gagal lagi. Begitulah seterusnya hingga proses petualangan sebenaranya hanyalah proses menemukan ‘rumah’, mendapatakan rasa nyaman dan betah untuk bernafas didalamnya.

Pada suatu titik, setiap perjalanan akan menemu titik ujung. Entah itukah ‘rumah’ yang sebenarnya mereka tuju, atau mungkin mereka benar-benar kembali ke rumah mereka, menyadari bahwa rumah yang kadang membosankan, kadang dicaci karena dilihat tiap hari, ternyata merupakan tujuan akhir mereka. Muara dari perjalanan mereka, yang berhulu di tempat yang sama.

Where are we really going? Always home.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s