Si Lugu

Si Lugu (L’Ingenu) adalah satu dari banyak dongeng Voltaire, filsuf Perancis yang anti terhadap kefanatikan. Dongeng ini berkisah tentang tokoh yang sama dengan judulnya, Si Lugu. Si Lugu disebutkan adalah pemuda asal Huron (mungkin sekitar danau Huron di Kanada) yang berdarah Perancis. Dia tiba di Perancis pada suatu masa setelah lama pula hidup di Inggris. Ceritanya selama di Perancis ini yang dilukiskan Voltaire dengan satir.

Si Lugu adalah tipikal orang yang bicara apa adanya, tanpa banyak pemikiran yang menggelayuti sebelum kata dan aksara lepas dari mulutnya. Sebutlah dia polos, dan memang begitu adanya. Kepolosannya ini yang sesungguhnya jadi bagian inti dari cerita, bagian dimana Voltaire bisa mengkritik kehidupan, negara, agama, bahkan Tuhan, dengan memanfaatkan sifat lugu tokohnya. Dongeng ini memang bukan sekedar dongeng pop, tapi dongeng filsafat yang merayu kita untuk berpikir, tentang banyak hal.

Setelah tiba di Perancis, tepatnya di Bretagne, Si Lugu baru mengetahui bahwa dia ternyata keturunan Perancis. Ayahnya adalah tentara Perancis yang mati ketika masa penjajahan di Kanada. Di Perancis, Si Lugu hidup bersama paman dan bibinya. Ia lalu dibaptis menurut tata cara setempat, meski awalnya dia sempat menolak, tentu karna keluguannya yang mempertanyakan segalanya.

Pada akhirnya ia dibaptis dan ibu permandiannya adalah nona Saint-Yves. Konflik lalu muncul, Si Lugu mencintai ibu pemandiannya, begitu pun sebaliknya. Namun aturan agama melarang hubungan antara orang yang dibaptis dengan ibu pemandiannya sendiri. Si Lugu dengan keluguannya protes, ia tak terima cintanya diilegalkan oleh aturan yang baginya tak manusiawi. Ia nekad dan karena pembawaannya yang udik, ia memaksakan cintanya dengan melanggar tata krama setempat.

Nona Saint-Yves lalu diasingkan ke biara untuk dijauhi dari Si Lugu, meski sebenarnya ia rak rela berjauhan dengan pemuda yang dikasihinya itu. Si Lugu tak terima, tapi keadaan justru mengarahkannya menuju Paris setelah ia berhasil mengusir orang-orang Inggris di Bretagne. Dia menuju istana untuk mengharap balasan negara atas jasanya mengusir orang Inggris keluar Perancis. Selain itu, dia ingin minta izin raja dan paus agar cintanya kepada ibu permandiannya dapat dilegalkan.

Yang terjadi justru aneh. Si Lugu dijebloskan ke dalam penjara Bastille. Disana ia dikurung bersama seorang pria tua penganut Jansenisme, salah satu aliran yang dilarang di Perancis kala itu. Si Lugu bingung kenapa ia dimasukkan ke dalam penjara. Namun toh disana ia bisa bertemu dengan pria Jansenis tadi. Pria tersebut baik hati dan mampu menjadi tempat Si Lugu menumpahkan keluh kesahnya selama disana.

Selama dipenjara, Si Lugu banyak membaca dan berdiskusi dengan Gordon, pria Jansenis itu. Mereka berdiskusi siang dan malam perihal berbagai hal. Kemampuan Si Lugu berkembang pesat, bakat alaminya yang memang cepat menangkap ajaran muncul dalam kegelapan penjara. Karena semasa hidupnya tak bersekolah, ia jadi pembelajar yang baik karena dari kecil tak pernah disekap oleh prasangka-prasangka menyesatkan yang dipunyai oleh orang-orang yang sekolah.

Singkat cerita, di Bretagne, nona Saint-Yves memutuskan untuk menuju Paris dan mencari  Si Lugu. Dia memutuskan akan menemui raja untuk membebaskan kekasihnya itu. Tapi ia kesulitan, dan takdir malah mempertemukannya dengan pejabat penting lain yang berusaha memanfaatkan situasi yang dialami gadis cantik itu. Pejabat itu menjanjikan akan membebaskan Si Lugu asal nona cantik itu memenuhi keinginannya yang jahat, yang muncul setelah melihat kemolekan gadis itu.

Nona Saint-Yves awalnya tak sudi memberi kehormatannya kepada pejabat tersebut. Tapi cintanya yang begitu besar pada Si Lugu membuatnya luluh dan menuruti kemauan pejabat itu. Si Lugu akhirnya bebas, begitu juga Gordon, temannya selama disekap. Akhir cerita menjadi menyedihkan. Nona Saint-Yves meninggal setelah sakit, padahal saat itu keluarga dan kerabat sedang merayakan kebebasan Si Lugu dan Gordon. Si Lugu lalu ingin bunuh diri karena kecewa, namun gagal karena dihalangi kerabat dan keluarganya.

Kritik-kritik Voltaire pada dongeng ini tajam. Dia dengan caranya menyentil kefanatikan terhadap agama, kepausan Katolik,  intoleransi, dan sekte-sekte kurang ajar. Ia juga menyerang negaranya akibat rendahnya kebebasan di Perancis serta ketidakadilan yang sering terjadi di masa itu. Selain itu dia turut mengkritik administrasi dan korupsi pemerintahan yang baginya merugikan rakyat. Semua itu dituturkan dengan implisit maupun eksplisit lewat kepolosan Si Lugu yang dapat mengajarkan kita banyak hal tentang hidup ini. Banyak sekali hal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s