Agama

Kata Marx, “agama adalah candu”. Candu macam apa? Entah seperti apa, tapi seluruh dunia tahu dia bukan orang yang dikungkung institusi bernama agama. Agama memang suatu persoalan dilematis, seperti banyak hal lain di dunia. Baik buruknya bisa muncul, positif negatifnya selalu ada. Itu semua kembali kepada manusianya, bagaimana untuk menanggap agama. Perihal memeluk agama apapun atau bahkan memilih tidak beragama adalah kebebasan.

Dari Banten lalu muncul berita panas soal kebebasan beragama yang direnggut. Tak usah disebut nama korban dan pelakunya, kelompok yang diserang dianggap menyesatkan oleh kelompok lain yang mentahbiskan diri sebagai pembela sebuah agama, padahal keduanya agama yang sama. Sekte yang dituding sesat jadi sasaran empuk bagi kelompok sok suci nan munafik tadi. Entah apakah kelompok penyerang tersebut benar-benar melakukannya, atau hanya segelintir oknum yang mengatasnamakan kelompok tersebut, yang jelas kejadian ini bagai lecutan bagi bangsa yang plural ini.

Bagi saya secara pribadi kemerdekaan beragama adalah hal yang harus dilindungi dan terlebih dimengerti, sekali lagi terutama di negeri yang penuh keberagaman. Menghargai orang lain dan kelompok lain apapun agama dan ideologinya adalah suatu keharusan mutlak. Tapi toh kenyataan bicara lain, saya lupa dunia ini masih seru, hingga cerita-cerita seperti ini masih ada. Akan selalu ada. Selalu ada “tuhan-tuhan” lain, yang merasa pantas menunjuk jari dan bilang, “kamu sesat!”

Tak lama kemudian, di Temanggung cerita serupa berulang. Kali ini yang diserang adalah kelompok agama lain, bukan sekedar berbeda aliran. Cerita ini bagai cerita yang anarkis, sedih, sadis, dan keterlaluan. Entah apa lagi cerita yang akan terjadi, entah apa yang akan dilakukan pemerintah, entah apa yang dipikirkan Tuhan. Mungkin Dia kecewa melihat manusia bertikai dengan membawa namaNya, menjadikan alasan untuk membantai orang lain, yang menyembah Tuhan Yang Esa, hanya berbeda sebutan.

Mungkin Marx benar dengan mengatakan agama adalah candu. Agama mungkin memang memabukkan hingga orang lupa kebenaran dan bahkan menodai ajaran agama yang dinikmatinya. Agama mungkin sebuah ciptaan paling keliru yang dibuat manusia, agama mungkin tak perlu ada. Daripada ada untuk jadi alasan membunuh orang, mungkin karena  iseng tak punya kerjaan. Atau mungkin tanpa agama manusia tetap saling pukul? Entahlah, mungkin agama tidak salah. Siapa yang salah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s