Adi Sucipto

Seorang pahlawan nasional dan penerbang yang mati muda di udara. Namanya kemudian diabadikan menjadi bandar udara di Yogyakarta. Itu saja yang saya tahu tentangnya. Tapi cerita ini memang bukan tentang beliau yang mati demi negeri ini. Mungkin ini juga bukan sebuah cerita. Hanya sebuah gumam yang coba dituliskan apa adanya. Tentang kisah di Bandar Udara Internasional Adi Sucipto yang saya alami. Dan ini bukan kisah yang penting.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah hampir dua minggu tidak mencium wangi rumah tercinta. Saya ada di Jogja, menginap di sebuah indekos teman. Dari Semarang saya menumpang bus besar menuju Jogja. Bus yang ternyata dari Jambi dan memang menuju Jogja. Tiba di Jogja pada suatu senja yang basah, dan saya turun di perhentian terakhir, Terminal Jombor Sleman.

Saya bernafas di bawah langit Jogja sekitar empat hari. Jogja hari-hari itu adalah waktu yang tak terlalu menyenangkan. Disana musim penghujan, dan biasanya telah membasahi seluruh kota sejak siang menjelang sore. Bukan saat yang tepat untuk menikmati suatu kota asing. Tapi saya tak terlampau kecewa. Minimal saya sempat menjenguk Merapi yang terluka itu, bertemu dengan hawa pantai di Parangtritis, dan tentu mengunjungi Malioboro.

Saya pulang di sore yang hujan juga, persis seperti saat tiba. Kali ini saya putuskan menumpang pesawat. Saya lelah, jadi saya tak naik kereta atau bus. Toh harga pesawat beda tipis dengan kereta eksekutif Jogja-Jakarta. Dan pesawat tentu lebih cepat. Produk jaman yang haus efektivitas dan efisiensi. Juga jaman yang dikejar waktu, jaman yang terburu-buru. Pesawat juga simbol dimana manusia melawan hukum alam.

Pesawat saya rupanya telat sekitar satu jam, mungkin karena hujan. Tak apalah, saya bukan mereka yang dikejar waktu. Di tengah waktu menunggu itu saya masuk ke sebuah toko buku di ruang tunggu pesawat. Dan saya temukan buku berbahasa asing yang dari sampulnya sangat saya kenal. Into the Wild, buku karangan Jon Krakauer tentang Christopher McCandless yang luar biasa. Saya sudah baca versi Indonesianya, dan Jogja memberi saya versi Inggrisnya sore itu.

Takdir mempertemukan saya dengan buku itu. Jadi tak salah putusan saya naik pesawat, tak salah pula saya ke Jogja kali itu meski hujan halangi wisata. McCandless yang saya kagumi ada di Jogja dan menunggu saya di Adi Sucipto. Saya lalu membayar sesuai harga. Duduk di kursi tunggu, di samping orang-orang yang ribut memprotes jadwal yang rusak, memprotes waktu yang hilang sia-sia. Saya tenang, tenggelam dalam kisah pemuda yang mati di Alaska dalam pengembaraannya yang menakjubkan.

Setelah terlambat satu jam, keberangkatan pesawat menuju ibukota pun diumumkan. Penumpang berjalan berbaris menuju lapangan, lalu menuju pesawat. Saya juga. Hujan hampir selesai, hanya rintik sedikit. Saya disodori payung untuk menuju pesawat. Berjalanlah saya, dan sore itu saya lihat senja yang indah sekali di lapangan udara itu. Senja hadiah dari hujan sore itu, di balik hamparan rumput luas di sekitar lapangan udara. Jingga dan menyejukkan.

Saya sangat terkesima dengan lukisan alam itu. Saya masuk ke kabin pesawat dengan senyum mengembang mengingat senja yang ada di belakang. Salah satu senja terbaik yang saya lihat. Saya duduk, memasang sabuk pengaman, dan melihat keluar. Pesawat lalu berjalan dan perlahan naik ke udara. Dari dalam saya lihat siluet Merapi yang terpotong itu, segitiga hitam pekat yang membayang di antara langit biru yang mulai menggelap. Pesawat makin tinggi dan tinggi, menembus awan, menembus batas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s