Euforia

Gelaran AFF Cup usai sudah sejak 29 Desember di atas Gelora Bung Karno. Malaysia seperti menampar 95.000 penonton yang hadir langsung menyesaki stadion kebanggaan Indonesia. Mereka pulang dengan genggaman piala pertama sepanjang sejarah, menumbangkan Indonesia yang tampil di final keempatnya. Miris. Kesempurnaan sejak fase grup hingga semifinal runtuh tanpa bekas diinjak negeri tetangga yang mengecewakan itu.

Piala AFF punya arti banyak. Bagi saya, bagi kita. Ini soal euforia. Euforia bangsa yang rindu akan kebanggaan, yang haus akan kemenangan, yang lapar akan kebahagiaan. Euforia yang dilimpahkan pada sebelas pemain di lapangan. Sebelas pemain yang dipundaknya tergantung beban ratusan juta penduduk negeri yang kusam ini, negeri yang lebih sering gagal daripada berhasil. Negeriku tercinta.

Media ramai ada mulut tentang sepakbola. Orang-orang yang tak kenal bola tiba-tiba hadir dalam stadion, entah untuk apa. Untuk eksistensikah, atau untuk negara, atau tak tau untuk apa dan hanya terseret arus euforia membabi buta? Politisi brengsek juga tiba-tiba muncul dengan mulut mengucap soal tim nasional, mulut busuk yang pasti ada kepentingan busuk pula. Saya diam, antara senang dan sedih.

Saya senang karena sepakbola diperhatikan seluruh penduduk kali ini. Tak hanya segelintir orang yang rela 90 menit menatap layar kaca, atau duduk-berdiri dalam lingkar stadion. Tim nasional kali ini mungkin benar-benar ‘nasional’, milik seluruh bangsa, meski pasti tidak bagi mereka yang di pedalaman, yang tak peduli makanan macam apakah timnas itu. Tapi keraguan lalu muncul. Apakah benar semua rakyat yang matanya fokus pada timnas benar-benar hatinya larut pula?

Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi saya memang skeptis dan pesimis. Bagi saya ini sekedar euforia, bung. Kesenangan atas apa yang memang sedang ramai digandrungi. Sebuah gaya hidup. Seperti gelombang tren busana, tren pemberitaan mengarah seutuhnya pada tim nasional. Masyarakat pun tersulap, terhipnotis, mereka lupa hal lain, mereka tenggelam dalam badai euforia. Mereka korban dari sebuah proses. Proses yang dimiliki bangsa yang selalu gagal.

Yang kasihan adalah pemain sepakbola berseragam merah putih itu. Mereka seperti dihujani teriakan untuk terus meledakkan euforia ini agar tak padam. Caranya dengan jadi juara, seperti keinginan rakyat yang buta dan bisu tadi. Dan seperti telah saya katakan, pundak mereka jadi beribu kali lebih berat. Kaki mereka seperti dibebani belenggu baja bernama “harapan seluruh bangsa Indonesia”. Dengan itu, mereka dibunuh Malaysia yang licik. Kasihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s