Bone-bone

Suatu kota di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Entah kota atau sekedar desa. Wanginya bukan wangi ‘kota’ memang. Lebih cocok disebut ‘desa’. Wilayah dimana sawah-sawah masih bersebaran, dan profesi petani masih cukup banyak. Dimana langit masih biru segar, tak seperti kota yang punya langit biru pucat. Tempat yang sepi, sunyi, menenangkan, tak bising seperti Jakarta. Sesuai akte kelahiran, disini tempat ayah saya lahir.

Di Bone-bone, hari-hari sungguh aneh. Menyenangkan tapi membosankan. Senang karena lari dari polusi yang memabukkan dan pergi menyesatkan diri di sunyinya wilayah antah-berantah. Membosankan karena diri terbiasa disuguhi hiburan-hiburan khas kota yang sibuk. Disini, jangankan mal, warung pun susah dicari. Ada, tapi tak banyak. Atau ada, tapi tak kelihatan, saking kecilnya.

Tempat wisata mungkin hanya pantai dan waduk. Ada juga gua-gua peninggalan jaman batu, atau museum-museum pencerita kebesaran kerajaan Bone jaman dulu. Itupun tak  terlalu didandani dengan menarik. Hanya apa adanya, tampak tak terawat. Yang penting ada. Tapi mungkin wajar, orang disini tak butuh wisata. Tiap hari adalah wisata, memandangi sawah, menghirup udara bersih, memandang langit biru. Beban hidup disini pun tak terlalu membutuhkan hal bernama wisata.

Menuju Bone-bone adalah perjalanan darat paling menggairahkan bagi saya. Dari Toraja, menumpang bus antarkota berukuran sekitar 30 penumpang. Saya lupa nama busnya. Saya duduk paling depan, disamping supir, juga keneknya. Berhadapan langsung dengan pemandangan di depan bus yang hanya dipisahkan kaca tembus pandang. Suasana di bus memang membuat saya merasa asing. Hampir semua berbahasa Toraja. Saya lebih banyak diam, menikmati pemandangan luar biasa di luar bus.

Toraja terletak di atas gunung, sementara Bone-bone adalah kota pesisir dibawahnya. Bayangkan, perjalanan ini adalah perjalanan turun gunung. Bus memutari jalan memutar dari atas hingga bawah, dimana disamping jalan langsung jurang. Disamping satu lagi adalah bagian dari gunung, tembok tanah raksasa yang kadang ditutupi pohon-pohon. Sepanjang perjalanan saya dibikin terkesima oleh bayangan bila saja bus jatuh ke dasar jurang. Ada kalanya pula, bus harus jalan melewati genangan air yang jatuh turun dari air terjun yang asalnya dari sungai di atas gunung sana. Luar biasa.

Cerita saja tak akan cukup menggambarkan perjalanan sekitar 5 jam ini. Mengalaminya adalah satu-satunya cara untuk meresapi sensasinya. Meski akhirnya saya tiba di sebuah tempat yang membosankan. Sampai di Palopo, lalu Bone-bone. Kota atau desa, yang sepi. Terlalu sepi dan kosong untuk membuang-buang waktu. Hanya 5 hari saya dibunuh dengan hanya dihibur langit Bone-bone. Lalu saya pulang menuju Rantepao, Tana Toraja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s