Langit

Memandang langit sama saja memandang kehidupan. Memandang langit memancing pikir. Memandangi langit bagai relaksasi simpel buat dunia yang ruwet, disibukkan detil-detil omong kosong. Langit sang atap bumi mungkin bagi sebagian orang hanyalah sebagai dekorasi fungsional. Atau sekedar hiasan nan luas yang tak pernah diperhatikan. Dilihat sekilas, namun terlupakan begitu saja.

Saya menyukai langit entah sejak kapan. Mungkin sejak sadar bahwa langit itu sangat indah. Indah apa? Entahlah. Memandanginya punya makna yang beragam sesuai kondisi diri, kondisi sekitar diri. Kadang sebagai hiburan kala luka dunia terlanjur dalam. Atau sebagai refleksi atas pola kehidupan yang keliru dan menjijikkan. Seringkali sebagi pencari jawab atas pertanyaan sulit yang rupanya memang tak punya jawaban. Kadang pun hanya memandangnya, tanpa tujuan, tanpa makna.

Langit adalah simbol kesatuan dunia. Bentangan yang tak pernah putus, menaungi seluruh umat manusia penghuni buana. Melindungi kehidupan di atas tanah yang berbeda. Memperhatikan warna-warni manusia, mengawasi tindak-tanduk orang. Langit adalah teman setia kita. Kemanapun kita pergi, disitulah langit ada. Setia memandangi kita, melihat kerja kita yang seringkali memalukan, membuatnya menangis, deras, keras, kadang membencana. Tersenyum juga kala kita tersenyum, meski kita tak tahu, meski kita cuek tak peduli.

Langit punya warna-warni. Di pagi, dia adalah lembaran yang membangunkan orang dari mimpi. Membiarkan diri dilubangi oleh matahari agar manusia tak punya alasan untuk terus tergeletak di dasar ketanpasadarannya. Di siang, dia terbakar. Matahari makin panas. Lubang langit makin besar. Manusia kepanasan. Di senja, langit (buat saya) punya warnanya yang paling indah. Khas, menyejukkan, oranye. Momentum sekali sepanjang sehari yang memesona. Saat terindah dalam dua puluh empat jam manusia. Di malam, langit yang sempat dicoret sore, jadi gelap. Kelam dan buta. Mengirim pulang manusia kembali ke alam mimpi. Menjadikan manusia punya alasan untuk merebahkan diri dalam kesenangan bernama tidur. Lalu berulang. Repetitif.

Lalu apalagi soal langit? Saya tak tahu banyak. Tanyalah langsung padanya. Atau bermainlah ke lautan, melihat bayangannya di samudra luas. Bertanya kepada permadani laut tentang temannya, si langit yang bunglon. Mendengar jawabnya tentang sosok langit. Mendengar kisahnya tentang langit. Jujur dan menyanjung. Lalu langit menangis terharu memandang bayangannya di samudra, luas, tak terbatas.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s