Wasior hingga Merapi

Duka bangsaku datang bertubi-tubi

Menghujam waktu menjadi kepiluan

Ketika alam tersentak, marah, dan jadi petaka

Ketika bumi yang kita ludahi berontak

Ketika Tuhan yang kita lupakan diingat lagi

Bencana negeriku mirip hujan

Atau bencana ini karena hujan?

Atau hujan adalah pertanda?

Entahlah

Wasior diterjang arus air liar yang lapar

Jakarta digenangi air bah penuh kutuk

Mentawai disapu air laut yang hadir tanpa ijin

Belum selesai tangis ibu pertiwi

Merapi meledak, abunya jadi hujan

Masuk ke hidung, hentikan jantung, habisi nyawa

Wahai Tuhan yang entah dimana

Kenapa negeri ini sarang bencana

Kenapa siang jadi gelap dan malam makin kelam

Kenapa laut tenang jadi monster

Dan gunung berapi marah besar

Kenapa harus kami, bangsa yang selalu murung

Kenapa selalu kami, negeri yang sudah rusak

Salahkah aku jika memohon satu pinta sederhana

Ampuni kami dan hentikan air mata ibu pertiwi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s