Berpikir

Jenuh menyeruak, habisi sepi, buat waktu jadi mati. Ketika waktu terbunuh, kita tak tau harus bunuh apa lagi. Kita lalu bunuh pikiran kita dengan berpikir. Berpikir tentang hal-hal, dari yang sampah sampai yang penting, dari yang simpel sampai yang rumit. Berpikir lalu jadi inti hidup manusia, Descartes munculkan ‘cogito ergo sum’. Manusia semakin yakin untuk berpikir, yakin bahwa berpikir tak salah.

Lalu muncul masa pencerahan, dimana berpikir seolah jadi sebuah kewajiban. Keharusan untuk menentang gereja yang pada waktu itu sangat dominan. Dengan berpikir, orang bisa membalikkan dominasi. Orang punya dominasi, minimal atas dirinya pribadi. Di Jerman, masa pencerahan disebut aufklarung. Dan semboyan aufklarung adalah sapere aude. Ungkapan yang secara orisinil dicetuskan Horace, lalu dipopulerkan Kant. Artinya: beranilah untuk berpikir, untuk memahami.

Kegiatan berpikir semakin menjadi-jadi bagi manusia. Sangat penting, atau wajib, atau bahkan pasti. Tak ada manusia yang tak berpikir. Dan kenyataan yang ada memang membenarkan itu, atau mungkin belum ketemu saja orang hidup yang tak berpikir. Dengan berpikir orang memberi makna pada hidup, memberi nyawa pada hidup, memberi jiwa pada hidup. Tujuannya agar hidup benar-benar hidup dan tak hanya seonggok benda mati.

Saya setuju kemudian pada proses dan aktivitas berpikir yang menghidupi hidup ini. Tapi ketika berpikir jadi semakin menjadi-jadi, semakin berlebihan, manusia hanya jadi korban pikirannya sendiri. Tuntutan untuk berpikir membuat manusia terus berpikir meski enggan, meski lelah. Tapi apa boleh buat, orang terus berpikir, terus dan terus. Hingga apa yang dipikirkan sebenarnya tak jelas, tak ada gunanya, yang penting berpikir.

Berpikir secara berlebih lalu menyadarkan saya bahwa berpikir harus ada batas. Tak boleh terus berpikir. Tak boleh terus menggali. Otak punya limit yang harus dihormati. Selain itu, dengan terus berpikir orang otomatis terus bertanya. Terus bertanya orang jadi lupa bahwa tak semua pertanyaan dapat terjawab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang memang tak punya jawaban, dan hidup sebagai pertanyaan yang kekal.

Karena merasa tak punya jawaban, orang kesal, orang bingung, orang berpikir lagi. Terus, namun gagal, percuma. Jadi lalu saya anjurkan untuk tak hanya membatasi berpikir, tapi berhenti berpikir. Atau…mungkin tidak mungkin jika manusia tidak berpikir. Jadi dimodifikasi sedikit agar manusia tetap hidup, tak mati, dan tetap berpikir. Bagaimana kalau kita berpikir untuk tidak berpikir? Saya rasa ini pilihan tepat untuk jadi pemikir yang bosan, atau yang malas.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s