Mentawai

Tsunami bertamu lagi ke negeri ini. Kali ini giliran Mentawai yang didatangi musuh besar Aceh itu. Gempa-gempa besar disusul tsunami meluluhlantahkan Mentawai, sebuah pulau cantik di Sumatra Barat. Mendengar beritanya, bulu kuduk saya berdiri. Sedih. Miris. Hancur. Terlampau lelah rasanya mendengar berita tentang bencana-bencana di negeri ini. Dan ketika belum usai kesedihan tentang satu bencana, bencana lain datang. Indonesiaku malang.

Padahal belum selesai urusan tentang Wasior. Daerah di Papua yang dilanda banjir hebat yang menghancurkan seluruh wilayah kota, menghambat kehidupan disana, merenggut nyawa dan miliaran rupiah. Banjir yang ditengarai akibat penebangan hutan liar yang tadinya menjadi resapan air dan penghalang banjir. Ketika hutan dibabat, banjir leluasa. Air bah masuk dengan gagahnya, manusia termakan terjangan arus liar yang lapar.

Juga sebelumnya ada berita tentang Merapi. Gunung di Jawa Tengah yang sedang dalam status ‘awas’. Bahkan dipastikan akan meletus, entah kapan. Yang pasti sang gunung belum memuntahkan laharnya. Mengulang letusan 2006, para warga telah ramai dievakuasi dari daerah sekitar gunung. Pemerintah enggan dibodohi dua kali. Segala persiapan evakuasi dan pasca letusan telah dipersiapkan. Kita lihat nanti bagaimana.

Yang terbaru adalah tadi malam. Ketika ibukota dilumpuhkan oleh banjir akibat hujan deras yang setia mengguyur Jakarta beberapa hari belakangan. Banjir melumpuhkan aktivitas kota yang sibuk ini, merusakkan infrastruktur, rumah, puluhan kendaraan, dan membuat orang-orang sibuk mengutuk gubernur Fauzi Bowo. Daripada melakukan perenungan dan introspeksi terhadap diri sendiri, orang lebih suka mencari kambing hitam. Padahal baru banjir air. Bagaimana kalau banjir lumpur seperti di Sidoarjo?

Ketika berita bencana yang seolah terencana datang satu-satu, kali ini berita datang dari ranah Sumatra. Ketika laut yang saya puja sebagai tempat bersemayamnya ketenangan dan kedamaian justru menjadi petaka. Laut marah entah karena apa, mungkin karena sentakan lempeng, mungkin karena kekurangajaran kita. Mungkin ini hanya siklus alam yang mau tak mau terjadi, mungkin ini pelajaran yang ingin diberikan bagi manusia yang tolol dan susah diajari. Bencana jadi momen yang tepat buat kita merenung dengan harapan bisa memperbaiki diri sendiri untuk menghormati alam lebih baik, bahkan lebih baik dari pada sembah kita pada rupiah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s