UTS

Ujian tengah semester, sebuah rangkaian dari kereta besar bernama perkuliahan. Gerbong yang cukup menentukan dalam satu semester perkuliahan. Berbobot nilai besar. Oleh karenanya, mahasiswa sibuk bukan main menjelang masa ini. Kampus agak lengang, mahasiswa yang biasanya betah berlama-lama di kampus lebih memilih untuk pulang, lalu belajar, lalu pusing, lalu panik.

Tiap masa ujian memang jadi waktu-waktu yang menarik. Waktu ketika mahasiswa benar-benar tampak seperti mahasiswa. Menghabiskan banyak waktu di depan sebuah literatur daripada menaruh pantat berlama-lama di kantin kampus. Atau berdiskusi sampai tengah malam demi mengais ilmu-ilmu dari teman sejawat, padahal mulut biasanya dipakai untuk menggosip atau mengutuk sesuatu.

Fakta menarik lain adalah pada jam-jam menjelang ujian. Yang biasa datang telat, datang lebih pagi, bahkan paling pagi. Kampus jadi arena intelektual yang sebenarnya, dimana mahasiswa sibuk belajar ini dan itu. Belajar meski waktu mepet, hanya beberapa menit lagi sebelum ujian mulai. Belajar meski mata lelah dan ingin dipejamkan. Belajar meski malas datang, ilmu masuk ke otak sebentar saja lalu pergi entah kemana.

Masa kepanikan bernama uts adalah waktu yang memprihatinkan buat saya. Melihat teman-teman dengan wajah yang khawatir datang ke kampus, atau bertanya ini dan itu karena tidak siap. Dengan memandangi pemandangan seperti itu, saya seperti merasa mengkhianati diri sendiri. Mengkhianati diri karena memasukkan diri saya dalam penjara kuliah ini. Mode kehidupan yang sejatinya tak saya terlalu inginkan, namun tak terelakkan.

Tapi apa boleh buat, ini mungkin perintah takdir. Jadi saya juga jalani kuliah, jalani uts. Tapi tanpa kepanikan yang bisa ganggu waktu tidur atau jadwal makan. Tanpa pembelajaran yang penuh paksaan di depan buku tebal berbahasa asing. Tanpa ketidaksiapan yang tampil dalam bayang-bayang kertas ujian. Saya hadapi ritual omong kosong ini dengan relaks, dengan santai. Mencoba mengilhami yang lain bahwa uts bukanlah setan yang menakutkan, uts hanya sampah yang harus dibuang dengan tepat ke tempat sampah agar waktu-waktu jadi bersih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s