Slawi

Kota kecil di sebelah selatan Tegal. Entah kota atau desa. Saya bernafas di udara Slawi selama dua hari dalam rangka sebuah kunjungan gerejawi. Kunjungan singkat penuh makna, menyegarkan, menghibur, mengaburkan realita untuk sementara. Meski bagaimana pun kenyataan yang kurang ajar itu menarik saya kembali dalam kesibukannya yang fana, penuh ilusi. Meski saya tak cukup sibuk menghias realita hidup, itu-itu saja tiap harinya.

Selama dua hari saya tak minta apa-apa dari Sang Pencipta. Saya hanya minta pikiran dan raga bisa segar kembali sepulangnya dari tempat yang masih banyak sawah hijau muda ini. Permintaan ini mungkin telah terkabul seiring injakan kaki pertama di tanah Slawi. Ketegangan hilang, ketenangan terasa, kesenangan membuncah. Slawi hadir bak juruselamat setelah seminggu penuh saya ikuti ritual omong kosong bernama ujian tengah semester.

Saya tinggal di suatu rumah tua bernuansa klasik, bergaya Eropa kuno, dengan budaya Jawa yang kental. Jendela-jendela sebesar pintu, berwarna putih polos, berhias gambar-gambar Soekarno. Bicara soal Soekarno, saya pikir kharisma sang bapak bangsa masih hidup utuh di daerah-daerah pertanian, seperti Slawi. Gagasan marhaenisme dari beliau tentu merupakan kebanggaan para petani dan padi-padi bisu itu. Namanya abadi, potretnya hiasi dinding-dinding lusuh rumah-rumah di desa-desa tani.

Jika aroma Soekarno masih eksis, apakah nuansa PKI juga masih hidup disana? Entahlah, saya mau tau tapi tak mau berspekulasi. Jadi biarkan saja pertanyaan itu kekal. Untuk apa berjalan jauh dari Jakarta jika hanya direcoki pikiran tentang PKI. Lebih baik menikmati keindahan nuansa pedesaan di Slawi, sambil berbincang tentang hal-hal ringan yang tak akan ganggu pikiran. Seperti teh, yang jadi oleh-oleh khas Slawi. Atau tentang Guci, daerah pegunungan dekat Slawi, wisata utama masyarakat sana.

Dengan kesana dan berada disana saya kombinasikan panggilan Tuhan, panggilan jiwa, dan panggilan alam. Tiga dalam satu. Efektif dan efisien, bukan? Persis semangat jaman edan ini yang menggilai efektivitas dan efisiensi. Lalu saya pulang kembali bertemu dengan realitas. Waktu dua hari di Slawi berakhir. Berkesan dan berfaedah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s