Travelo Ergo Sum

Tiba-tiba dalam sebuah perjalanan pulang kuliah saya berpikir memlesetkan ungkapan terkenal Rene Descartes, cogito ergo sum. Jadinya, seperti judul di atas, travelo ergo sum. Ungkapan Descartes yang berarti ‘aku berpikir maka aku ada’, saya ganti kata kerjanya dan sedikit modifikasi. Jadi kemudian berarti ‘aku berjalan-jalan maka aku ada’. Sebenarnya ini hanya gurauan yang numpang masuk ke otak dalam sebuah pikiran yang mengembara tak jelas arah tujuan. Tapi saya coba memikirkan lebih jauh lagi dari sekedar gurauan pengisi perjalanan pulang kuliah.

Ungkapan terkenal Descartes adalah sesuatu yang tak perlu diragukan lagi kebenarannya, setidaknya untuk saya. Dengan berpikir, kita eksis, kita ada. Kemampuan kita untuk menggunakan otak kita itulah yang menjadi roh yang mengisi hidup. Berpikir adalah syarat untuk hidup yang utama. Tanpa pikiran kita bukan apa-apa. Kita tak akan jadi apa-apa. Hanya seonggok barang mati. Tapi saya ragu apakah ada manusia yang sama sekali tak berpikir, dan hanya jadi barang mati? Entahlah.

Dan ungkapan plesetan saya, benarkah? Buat saya benar. Dengan berjalan-jalan, dengan travelling, orang yang telah hidup dengan berpikir, sebenarnya baru benar-benar hidup ketika travelling. Dunia yang luas dan besar ini ada dan disediakan oleh Pencipta pasti ada maksudnya. Jika kita hanya berpikir lalu diam di suatu tempat, dan terus berpikir, rasanya sia-sia, rasanya membosankan. Artinya, travelling menyediakan arena yang lebih luas bagi kita untuk menikmati kehidupan, untuk berpikir, untuk jadi ada. Dengan itu saya terpikir untuk melebur dua ungkapan tadi, ungkapan Descartes dan plesetan dari saya.

Jadinya, travelo ergo cogito ergo sum. Saya berjalan-jalan, maka saya berpikir, maka saya ada. Saya rasa ini lebih adil untuk mengakomodir pentingnya keduanya. Dalam sebuah perjalanan, tak mungkin dihabisi dengan hanya berjalan-jalan. Pasti ada proses berpikir di dalamnya, berpikir tentang banyak hal. Berpikir tentang puncak gunung atau bibir pantai. Berpikir tentang orang-orang asing yang dilihat selama perjalanan, berpikir tentang Tuhan, berpikir tentang semuanya. Dan kedua proses tersebut, travelling dan berpikir, menjadikan kita ada, membuat kita eksis seutuhnya.

Kira-kira seperti itu. Dalam hidup kita harus berpikir, karena kita adalah makhluk ide yang tak terbatas. Kita hidup dalam dunia penuh ide, kita dikeliling ide-ide. Dan ide itulah yang sebenarnya hidup, kita tidak. Kita tidak hidup sampai kita berjalan-jalan melihat dunia yang sebenarnya, dunia yang penuh ide-ide tadi. Menyaksikan sudut-sudut bumi yang lain. Meski dipastikan tak akan setiap sudut di muka bumi bisa dialami. Kita tak hidup jika hanya diam dalam satu sudut, hidup dalam sebuah kebosanan yang itu-itu saja.

Think and travel as far as you can.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s