Stadion

Menikmati pertandingan sepakbola langsung dari dalam lingkar stadion mirip rasanya dengan mengunjungi pantai. Ada rasa yang unik yang kadang sulit digambarkan. Semacam kepuasan, atau kesenangan, yang hanya muncul apabila jiwa penuh. Penuh karena baru saja terisi. Padahal tadinya kosong. Dan karena saya orang yang percaya bahwa jiwa bisa diisi ulang, pantai dan stadion adalah atmosfer yang tepat untuk mengisi ulang jiwa yang lelah dengan jiwa yang lebih segar. Semuanya dilakukan demi alasan menikmati hidup dengan penuh penjiwaan.

Alasan yang cukup logis lainnya adalah, di dalam stadion, pada sebuah pertandingan sepakbola, bibir kita bebas mengutuk-ngutuk sesuatu. Emosi kita tumpah ruah bersama emosi seluruh stadion yang membaur menjadi roh yang menghidupi pertandingan. Sambil menunjuk-nunjuk wasit, misalnya, kita mengucap: wasit goblok. Dan hal-hal kasar serta kadang tak etis diucapkan di tempat publik pun keluar dari mulut. Rasanya agak mirip dengan ketika berteriak kencang-kencang di bibir pantai, apalagi pantai yang sepi. Berteriak tak jelas dengan tujuan hanya untuk mengeluarkan emosi. Emosi itu keluar, jatuh ke laut, dan hanyut selamanya.

Jadi, saya suka keduanya. Stadion sepakbola dan bibir pantai. Keduanya menyajikan sarana prasarana yang vital untuk menjalani kehidupan. Kebanyakan orang mungkin tak sadar bahwa dalam hidup perlu semacam tempat pelampiasan emosi, daripada emosi tertumpuk dan lalu mengacaukan hidup sendiri, apalagi hidup orang lain. Saya pilih dua tempat tadi tanpa alasan. Atau mungkin sebenarnya bukan saya memilih, kedua tempat itulah yang memilih saya. Pantai dan lautnya yang biru menyeret saya ke dalam pesonanya yang menyejukkan. Stadion mengundang saya dalam atmosfernya yang membakar.

Pesan saya lalu: hiduplah dengan jiwamu bersamanya. Meski kehidupan jaman sekarang tak lagi punya jiwa. Yang penting hanya sekedar hidup. Dan karena hanya sekedar hidup, hidup sebenarnya tak lagi hidup. Hidup harus diisi dengan jiwa dan roh, agar hidup tak jadi barang mati. Tak harus memiliki hidup yang wah, mewah, dan meriah. Yang terpenting adalah hidup yang ugahari dan apa adanya. Yang penting diisi oleh jiwa yang bebas, yang memenuhi kehidupan, dan menggerakan rodanya. Hidup lalu berjalan, tanpa enggan berhenti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s