Milik

Suatu malam saya berpikir apa rasanya tidak memiliki apa-apa. Keluarga, teman, uang, benda, bahkan tidak memiliki diri kita sendiri. Mungkin seperti budak yang diberi anting. Tapi itu jaman dulu sekali, jaman ketika hak asasi manusia belum diteriakkan dengan lantang. Setelah HAM jadi perbincangan yang cukup intens, tak ada lagi orang yang benar-benar budak, meski perbudakkan akan selalu ada. Selamanya.

Jadi bagaimana rasanya tidak memiliki apapun? Entahlah, tapi saya jadi berpikir hal lain. Berpikir bahwa sebenarnya dengan memiliki sesuatu, orang kehilangan sesuatu di dirinya. Sesuatu itu ditanggalkan bersama apa yang dimilikinya. Misalnya orang punya mobil, sesuatu itu tinggal bersama mobil yang dimilikinya itu. Entah apakah sesuatu itu, tapi saya rasa seperti sedikit kebebasan yang terenggut. Sedikit sekali. Dengan memiliki, orang punya tanggung jawab atau semacam rasa takut kehilangan, atau mungkin perasaan sayang karena berbagai alasan, dan itulah yang hilang darinya.

Memiliki berarti kehilangan? Ya, mungkin terlalu jauh. Tapi setidaknya ada benarnya juga. Yang hilang bisa juga manusia lain, keluarga atau teman, relasi atau siapapun. Misalnya, orang dengan bekerja jadi kehilangan waktu dengan keluarga, teman, apalagi tetangga-tetangganya. Dengan punya mobil, orang memagari rumahnya. Dengan pagar berarti ada yang dibatasi, dengan dibatasi ada yang hilang. Ya, kira-kira seperti itulah.

Dan, karena hidup juga sebuah kepemilikan, berarti hidup juga menghilangkan sesuatu. Saya hidup, saya hilangkan sesuatu untuk tetap hidup. Bagi saya pribadi, yang saya hilangkan adalah model kehidupan yang benar-benar saya inginkan. Diganti dengan kehidupan yang ini-ini saja, kehidupan hasil kreasi orang modern dengan semangat kapitalisme, mungkin. Yang pasti bukan hidup yang benar-benar saya ingin, hidup yang bebas dari kewajiban-kewajiban yang telah dirunut sejak pertama kali saya dijebloskan ke sekolahan.

Sudahlah, ini hanya gurauan yang terlampau dipikirkan. Tapi gurauan ini saya jamin datang dari sebuah kebebasan penuh yang tidak memiliki apa-apa, juga tidak kehilangan apa-apa. Karena kebebasan adalah hal yang langka, saya bersyukur bisa bergurau. Banyak orang yang ingin bebas tapi tak bisa, direcoki berbagai tipuan, ilusi, dan topeng demi mendandani dunia yang termiliki dan hilang ini.

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s