Lebaran

Hari raya terbesar bagi umat Islam. Momen kebebasan setelah sebulan penuh menjalani rutinitas tahunan dalam tajuk ‘bulan ramadhan’. Bulan dimana setiap muslim dituntut untuk berpuasa menahan hawa nafsu, paling jelas dan paling kentara adalah menahan nafsu makan selama dua belas jam lebih sedikit tiap harinya. Entah menahan nafsu atau menimbun nafsu. Yang jelas lebaran jadi semacam kemerdekaan. Tanpa merah putih, cukup dengan ketupat.

Menjelang lebaran hari-hari terasa berbeda. Berita di televisi mulai sibuk dengan laporan perihal mudik. Sebuah konsekuensi rutin menjelang atau setelah lebaran. Saat dimana kampung halaman yang lebih asri jadi tempat untuk bersilahturami dan menghamburkan waktu di hari yang fitri. Mudik jadi alasan yang paling logis untuk menjelaskan kondisi jalanan -jalanan ibukota yang tak terlampau padat pada hari-hari sekitar lebaran.

Soal mudik, orang bisa habis-habisan untuk dapat melakukannya. Beragam jalan dan cara bisa ditempuh demi tujuan pulang kampung. Berdesak-desakan dan bersesak-sesakkan di dalam kereta ekonomi pun tak masalah. Mengarungi perjalanan berjam-jam dengan kendaraan pribadi juga rela dilakukan. Lebih beruntung yang menunggangi pesawat. Momen mudik memang momen yang sibuk dan sering rapuh.

Setelah lebaran lalu orang berbondong-bondong kembali ke rutinitas yang penuh lelah. Jakarta jadi neraka yang horor lagi. Kepadatan muncul lagi, bahkan mungkin lebih parah. Arus balik turut membawa serta orang-orang kampung yang ingin melihat seperti apa ibukota itu. Atau manusia yang ingin mengadu peruntungannya untuk hidup di ibukota yang katanya lebih jahat dari ibu tiri. Jakarta makin panas, luar dan dalam.

Tapi bagaimanapun lebaran adalah saat yang sakral. Apapun hiasannya tak perlu terlampau dipikirkan, yang penting kebebasan diraih, yang penting tak perlu puasa lagi. Mudik dan kesibukan-kesibukan lain hanyalah warna warni yang bikin lebaran lebih semarak. Dan setelah lebaran, suasana jadi seperti semula, terutama di ibukota. Jalan dijejali manusia-manusia pengais uang, orang mengutuk orang disebelahnya berharap dia tidak ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s