Teman

Di jaman edan seperti sekarang, teman pun jadi suatu hal yang berbeda apabila dibandingkan dengan jaman dulu. Atau mungkin berbeda dibanding apa yang kita bayangkan sewaktu kita kecil dan tak tau apa-apa. Teman kita anggap sebagai pelangi yang warnai hidup, tanpa teman kita merasa hanya seonggok barang yang mungkin tanpa arti. Teman adalah segalanya, teman adalah hiasan pada hari yang kebanyakan rapuh. Mungkin benar adanya.

Tapi anggapan itu agak berbeda saya rasakan. Saat ini teman bukan hanya sekedar itu. Hubungan pertemanan bukan lagi didasarkan atas kecocokan satu sama lain, dan dilandasi dengan sikap tulus dalam saling menghargai dan saling menyayangi. Menjadi teman sekarang ibarat menjadi seorang pedagang yang berpikir tentang untung-rugi: punya apa saya dan punya apa anda?

Hal yang saya maksud adalah pertemanan tak lagi jadi hubungan yang tulus, melainkan dipenuhi banyak perhitungan, meski tentu tak semua teman dan hubungan pertemanan seperti itu. Entah apa sebabnya, yang jelas teman didapat dari sebuah kebutuhan akan sesuatu, yang tak hanya rasa butuh dihargai, rasa butuh tempat berbagi, tapi juga kebutuhan akan koneksi, atau link. Orang menemani orang lainnya sekarang memperhitungkan hal semacam itu, meski perlu ditegaskan lagi, tak semuanya seperti itu dan masih banyak yang tak seperti itu.

Teman jadi semacam jembatan yang sengaja dibangun untuk mencapai sebuah tujuan. Banyak teman berarti jadi punya banyak jembatan untuk sebuah tujuan. Enak, bukan? Dan jaman memang melaju deras seperti itu. Seorang futuris pernah menyebut bahwa “link adalah mata uang baru.” Ungkapan itu jadi petunjuk bahwa kita harus punya link untuk hidup, seperti halnya kita menganggap mata uang sebagai jalan untuk tetap hidup.

Imbasnya, teman kita jadikan juga sebagai mata uang. Yang kita mungkin tukar untuk sebuah tujuan, untuk sebuah masa depan yang masih abu-abu. Teman jadi alat sempurna untuk tetap hidup, untuk tetap eksis. Dan demi itu semua, pertemanan jadi tak setulus ketika kita bermain dalam sebuah taman di masa kanak-kanak. Atau tak seindah ketika orang tua kita berkumpul bersama rekan-rekan masa lalunya dalam sebuah potret yang hitam putih. Relakah kita jika pertemanan jadi seperti uang, yang dapat ditukar, yang sering lecek?

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s