Musik

Ada ungkapan terkenal dari filsuf Jerman kenamaan, Friedrich Nietzsche. Dia bilang, “without music, life would be a mistake.” Benarkah? Benarkah hidup adalah sebuah kesalahan tanpa musik? Padahal musik mungkin hanya sepotong melodi yang patah-patah dan sebaris puisi yang didendangkan. Musik mungkin hanya segenggam hiburan kala keringat menetes lelah tanpa henti. Musik mungkin hanya rekaan orang yang tak tahu harus berbuat apa-apa, makanya mereka bikin musik.

Benarkah musik hanya itu? Mungkin iya, mungkin tidak. Dan kalau filsuf terkenal saja mementingkan arti musik dalam kehidupan, mungkin musik lebih dari sekedar yang selama ini kita bayangkan. Entah apa, saya tak tahu persis. Tapi secara sederhana saya mungkin ingin mengatakan bahwa kehidupan itu sendiri adalah musik. Musik yang mengalun, kadang keras kadang lembut. Musik yang beragam. Ada yang enak didengar sambil menari, ada yang hanya enak bila menjelang malam. Dan seperti itu pula hidup.

Hidup kadang keras, kadang terlalu lembek. Hidup pun beragam. Tergantung siapa yang menghidupinya. Sama seperti musik, tergantung siapa yang mendengar atau memainkannya. Meski pun kita manusia hidup dibawah naungan langit yang sama dan terpenjara dalam kilau sinar matahari yang sama, tapi hidup setiap kita berbeda bukan? Kita bukan makhluk yang itu-itu saja. Setiap orang unik, berbeda, dan spesial. Setiap hidup juga begitu. Cerita masing-masing orang berbeda dengan yang lain. Musik juga.

Setiap musik sangatlah berbeda. Ini bukan hanya tentang aliran musik, beda penyanyi, atau apapun. Intinya, setiap musik yang mengalun dalam suatu momen di suatu tempat adalah unik. Saya tak ingin bicara soal panjang lebar tentang ini, pikirkan sendiri, jika ingin. Karena musik sebenarnya mengajak kita untuk berpikir lebih dalam dari sekedar hiburan. Musik adalah keperluan, yang mutlak, bagi sebagian orang, kalau tak ingin dibilang semua orang. Musik adalah irama kehidupan yang tak hanya tertetes dari dentuman alat-alat musik modern. Musik pun dinikmati orang purba, kala modernisasi dan produk-produknya belum banjir.

Bagi orang jaman dulu yang hidup dalam kedamaian yang agung, musik mereka adalah kicau burung di pagi yang teramat sunyi. Atau mungkin suara langit yang bisa berupa hujan lebat, atau suara desir angin yang menerpa daun yang jatuh dan rontok. Atau musik mereka mungkin adalah suara tangisan anak dan cucu mereka, suara kecupan dari pasangan, suara kasih dari percakapan tulus yang apa adanya, tak ada niatan khusus. Musik adalah suara kehidupan itu sendiri. Hidup disadari atau tidak sedang menyanyikan musiknya sendiri, setiap kita yang mendengarnya berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s