Tuesdays with Morrie

Tuesdays with Morrie jadi novel yang melegenda. Karya Mitch Albom tentang dosennya sendiri. Dosen terbaik, dosen favorit, dosen segalanya bagi Mitch. Nama dosen yang tak terlupakan itu adalah Morrie Schwartz. Seorang dosen sosiologi yang digambarkan sangat humanis, penuh cinta kasih kepada sesama, kepada seluruh dunia. Bagi Mitch, Morrie bukan hanya dosen di dalam kelas. Mereka berdua sangat akrab, lebih akrab dari sekedar hubungan dosen-mahasiswa. Morrie adalah dosen yang menguliahi tentang kehidupan. Sebuah kuliah yang panjang, mati artinya lulus.

Ini kisah nyata. Cerita berawal sejak lama, ketika Mitch masih jadi mahasiswa. Saya akan persingkat.Singkatnya, Mitch lalu lulus dan menjadi jurnalis olahraga yang cukup sukses. Sementara Morrie kemudian mengidap penyakit ALS, penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Penyakit yang menyerang syaraf pelan-pelan dan ujungnya mutlak: mati. Setelah kelulusan Mitch, mereka berdua tidak pernah bertemu lagi sampai kemudian Mitch menonton Morrie dalam acara televisi, Nightline.

Dalam acara itu, Morrie sudah sakit. Dan yang diangkat sebagai tema adalah sosoknya yang meski sakit parah dan akan mati tetap bersyukur dan penuh harapan menjalani sisa-sisa hari. Setelahnya Mitch yang khawatir dan iba, langsung mengunjungi Morrie. Reuni mereka ternyata lebih panjang dari sekedar ‘menjenguk dosen yang akan mati’. Morrie ingin sekali lagi menguliahi Mitch, dan Mitch pun tak menolak. Kuliah pun berlangsung setiap hari Selasa di rumah sang dosen.

Dalam kuliah-kuliah itu, Morrie banyak menaburi Mitch tentang pelajaran-pelajaran kehidupan penuh makna. Tentang cinta, tentang keluarga, tentang uang, tentang pekerjaan, tentang dunia, tentang hidup dan mati, tentang semuanya. Dengan rajin pula sang mahasiswa mencatat dan menyimak setiap kuliah Morrie. Mereka jadi semakin akrab lebih dari sebelumnya. Mitch dan Morrie lebih mirip seperti dua sahabat, atau bahkan anak dan ayah. Setidaknya sampai kematian yang bisu menghentikan Morrie dan kuliah-kuliah terakhir itu.

Novel ini kemudian menjadi tugas akhir (sebutlah skripsi) dari kuliah-kuliah akhir yang diberikan Morrie. Dan Mitch pun menyelesaikan dengan sangat apik. Cukup menenangkan membaca novel ini, membaca orang yang ingin mati masih mau berbagi, masih mau bercerita tentang banyak hal, masih mau mencintai dengan tulus. Pernah kau memiliki dosen sepertinya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s