Aspal

Sekarang semua serba beraspal. Dari jalanan sampai muka orang. Miris. Tapi toh masyarakat masa kini, katanya, memang perlu aspal maupun ‘aspal’ itu tadi. Dengan beragam alasan, yang mungkin benar mungkin salah, aspal memang punya peranan penting di jaman yang menyajikan segala kemudahan secara instan ini. Aspal hanya salah satu contoh dan bukti. Tapi saya tak akan bicara contoh dan bukti lainnya. Hanya aspal.

Pikiran tentang aspal sudah lama menempel di kepala. Ketika ada kesempatan untuk bengong dan sedikit berpikir sambil mengendarai motor dalam perjalanan kembali ke rumah, waktu itu dari gereja. Saya tiba-tiba berpikir tentang suatu yang membuat saya resah. Saya tidak terlalu setuju dengan aspal dimana-mana, menggantikan tanah dan hal-hal lain yang alamiah. Ya, saya tak suka karena aspal hancurkan kealamian.

Tapi saya tak menafikan bahwa jika akses jalan tak beraspal, mungkin masalah-masalah akan muncul. Perjalanan akan menjadi semakin lama jika sepanjang jalanan hanya tanah yang diselipi kerikil-kerikil. Dan ketidakcepatan dan ketidakefisienan itu sangat bertantangan dengan arus jaman yang maju sangat kencang. Jadi saya bingung harus bagaimana, satu hal saya butuh aspal, dalam hal lain saya tidak terlalu menyukainya.

Tentang aspal lain, saya ingin sedikit bergurau saja. Aspal yang diolesi di wajah. Ya, kosmetik. Ini jaman dimana kosmetik jadi komoditi tak terpisahkan dari hari-hari seseorang, terutama perempuan, laki-laki juga sih. Jaman yang ingin membunuh anggapan bahwa semua hal relatif, termasuk cantik dan tampan. Meski patut disadari membunuh anggapan kuno seperti itu akan sangat sulit, jika tidak ingin disebut tak bisa.

Cantik dan tampan sekarang jadi konsep. Yang cantik harus ini itu, yang tampan harus itu ini. Misalnya, cantik sekarang ini diidentikan dengan perempuan berkulit putih, modis, berpakaian menarik, dan lainnya. Jadi cantik hanya sebatas itu. Sementara orang-orang yang tidak memenuhi kriteria tadi dianggap tidak cantik, jelek. Kemudian, kosmetik punya peran.

Tentu setiap orang, baik pria dan wanita, tidak ingin disebut jelek atau tidak menarik. Oleh karenanya kosmetik memberondong orang dengan pilihan beragam alat untuk ‘mengaspal’ diri agar tampil cantik atau tampan. Lalu semua orang memakainya dengan harapan menjadi cantik dan tampan sesuai dengan kriteria yang dibentuk secara sosial itu. Jadilah semua orang tampil dengan ‘aspal’ di tubuh mereka, dengan tujuan hanya untuk menutup bopeng yang terlanjur dikutuk masyarakat. Kita semua tampil dengan topeng. Kita semua membohongi satu sama lain, tapi secara terang-terangan.

Intinya saya hanya ingin menjaga harapan agar manusia dan hidup yang dihidupinya tampil alami, tampil apa adanya. Meski kadang tampil apa adanya justru menjadi akar masalah, dimana orang tidak suka, dan lalu kita jadi berpikir ‘apakah saya salah tampil jadi diri sendiri’. Lalu semua orang jadi tampil sebagai orang yang bukan dirinya sendiri. Dan semua orang seperti itu. Jadilah keseragaman. Dan keseragaman itu membuat hidup jadi barang yang membosankan. Pikirkan sendiri!

Advertisements
Posted in ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s