Futsal

Menikmati futsal adalah menikmati sebuah keterbatasan. Futsal adalah perlambang dimana keterbatasan bukanlah suatu yang perlu diratapi, masih bisa dinikmati, dan olehnya patut disyukuri. Futsal memang beda dari induknya, yaitu sepak bola. Cuma butuh seperempat lapangan bola dan dua puluh kaki untuk memainkannya. Selebihnya memang sama, berlomba memasukkan gol sebanyak-banyaknya ke gawang berjaring.

Lahir dari olahraga paling tenar sejagad, futsal seolah semakin menjadi tren beberapa tahun belakangan. Bukan hanya sebagai olahraga, futsal berkembang menjadi gaya hidup. Gaya hidup masyarakat perkotaan, yang butuh sarana membuang keringat ditengah rutinitas serba padat. Jadi futsal memang klop bagi tipe masyarakat yang sibuk, dimana waktu didoktrin sebagai uang dan harta. Dimana waktu jadi sesuatu yang mengatur, bukan lagi diatur.

Karena futsal biasanya dimainkan di dalam ruangan dan tak perlu tergantung cuaca dan matahari, makanya futsal berkembang pesat. Kaum yang sibuk bisa tetap menikmati nikmatnya berolahraga sehabis membanting tulang. Selain itu untuk memainkannya tak perlu mencari pemain sebanyak dalam sepak bola ortodoks. Belum lagi karena sulitnya mencari lapangan sepak bola di daerah perkotaan. Kebanyakan sudah jadi mal dan gedung bertingkat penyokong kehidupan gila uang.

Jadilah futsal sebagai solusi bagi pertanyaan akan kebutuhan menjaga tubuh agar tetap sehat dan kuat untuk kebutuhan gila uang itu. Memang tak semua pelaku futsal seperti itu, masih ada juga pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkannya untuk membuang beban-beban berbau akademis. Keluarga pun sering memanfaatkannya demi memperkuat silahturami, begitu pula dengan berbagai komunitas yang menjadikan futsal sebagai agenda resmi untuk mengumpulkan dan mengakrabkan anggota.

Futsal bukan lagi sekedar sepakbola mini. Futsal adalah kebutuhan untuk penyegaran, untuk mengikat pertemanan. Tapi tentu saja itu semua tetap dilakukan di tengah segala keterbatasan waktu, ruang, sumber daya, dan keterbatasan lainnya. Futsal jadi bukti masyarakat yang enggan dibatasi dan lalu berpikir kreatif untuk menyiasatinya. Kreatif boleh asal jangan lupa akar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s