Lukisan

Di suatu bagian dinding kamar saya yang silau tertera sepotong lukisan. Lukisan alam yang indah. Bagi saya, lukisan yang menggambarkan cita-cita luhur tentang kehidupan yang tenang dan damai khas pedesaan. Ada jalan yang masih tanah dan belum direcoki aspal. Segaris sungai yang mengalir tenang tanpa dihalangi polusi. Tampak pula pemandangan gunung di belakang kumpulan kabut yang samar-samar.

Intinya lukisan ini mewakili sebuah ambisi dan inspirasi. Yaitu rencana saya dalam mengarungi hari di masa tua nanti. Menghabiskan waktu yang bergulir dengan dinaungi damai dan tenang, meski mungkin tak akan seindah lukisan. Lagipula desa dan kota dewasa ini semakin mirip, meski tetap tak sama. Mungkin pergeseran nilai-nilai antara keduanya akan terus terjadi bertahun-tahun mendatang. Semoga tidak.

Lukisan itu kemudian saya jadikan juga semacam rekreasi mini. Setelah penat dengan aktivitas yang tak jelas dan melelahkan, saya akan luangkan waktu barang beberapa detik hanya untuk memandanginya. Tak hanya memandangi tentunya. Saya paksa imajinasi saya bertualang lebih jauh dan hidup didalamnya, tenggelam didalamnya. Mencicipi air sungai yang masih jernih, menapaki jalan tanah yang alami, dan memandangi puncak gunung sambil bercerita tentang nirwana. Itu sudah cukup, sebelum realita kembali membangunkan sekaligus menghancurkan imajinasi saya.

Cerita tentang lukisan, yang dibatasi kayu coklat selebar lima senti di tiap sisinya itu, belum selesai. Masih ada satu lagi. Lukisan ini meski indah namun tetaplah lukisan, sebuah pajangan, sebuah hiasan. Pertama kali dipajang akan terasa sangat indah dan memesona, memaksa mata terus meliriknya. Kedua dan ketiga kalinya pesona itu luntur dikit demi sedikit, demikian seterusnya hingga pesona itu sisa sedikit. Lukisan itu tak lagi bisa memaksa untuk terus dipandangi.

Yang jelas nilainya luntur dibanding ketika pertama kali dipajang. Ya, seperti hal-hal lain di dunia. Kita memang makhluk yang cepat bosan, bukan? Oleh karenanya, inovasi dan kreasi baru terus digali. Hingga kemudian kreasi menumpuk dan yang lama hanya akan terlupakan. Kita bisa belajar dari lukisan bahwa kita pun mungkin sepertinya. Tapi semoga kita punya siasat untuk hindari itu. Semoga kita terus mempesona dan menganggap yang lain juga penuh arti tak peduli berapa kali kita pandangi, atau temui.

Dan semoga kehidupan yang membosankan ini tak menggeser kita dari pesona akan kehidupan yang indah, yang ada disisi lainnya. Kita pun terus mampu mendandani diri dengan cinta kasih kepada alam, sesama, dan juga Tuhan agar kehidupan dan hidup tak lagi terasa penuh kebosanan. Hingga kemudian alam dan Tuhan pun tak akan bosan juga pada kita. Kita pun akan abadi seperti sepotong sajak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s