Losari

Losari, ya pantai. Pantai tanpa pasir. Pantai yang berbeda. Pantai yang biar bagaimanapun keadaannya tetaplah pantai. Berkeramik, tanpa butir pasir, namun tetap tak kehilangan esensi dan arti sebuah pantai. Seperti kebanyakan pantai lain, Losari pun punya magi dahsyat. Bahkan mungkin lebih. Magi yang bisa memerintah orang-orang berbondong-bondong menujunya hanya demi satu tujuan: jadi saksi pulangnya matahari.

Dan ritual khas satu hari sekali itu pun seolah menjadi momen istimewa yang enggan dilepas oleh siapapun yang berkesempatan mengikutinya. Ritual tanpa seremoni yang aneh. Bagaimana bisa peristiwa terbenamnya matahari yang ada setiap hari, yang padahal besok pagi akan kembali lagi, menjadi magnet dahsyat bagi umat manusia? Dan itulah sunset. Sunset ternyata bukan hanya kejadian selesainya tugas sang matahari yang baik itu.

Sunset punya cerita lebih, bagi saya. Sunset adalah peristiwa yang spesial dalam suatu hari yang rapuh dan kebanyakan sia-sia. Yang pasti, suatu hari yang fana. Dan yang lain, suatu hari yang satu-satunya, takkan terulang. Begitu pula sunset. Sunset sore ini berbeda dengan yang kemarin, berbeda dengan yang esok hari. Sunset bukan pengulangan. Proses penciptaan adalah sesuatu yang terus terjadi. Jadi, tak bodoh bila kita habiskan beberapa waktu menunggu angin malam tiup matahari kembali ke bawah laut.

Tak bodoh pula bila kita hidup, padahal tahu kita akan mati. Tahu bahwa yang kita hidupi akan kita tinggalkan. Yang kita lakukan dibawah langit akan jadi debu, sementara roh kita telah terbang, entah kemana. Dan lalu untuk apa kita hidup? Untuk lihat sunset. Untuk tahu bahwa matahari yang sama itu tetap setia temani kita. Setia sinari pagi dan siang kita. Setia suguhi kita keajabian senja di pinggir laut, atau dimanapun. Setia tanpa curiga meski dibawahnya banyak makhluk-makhluk yang sepatutnya dicurigai.

Marilah jika ada kesempatan, kesempatan yang takkan terulang, tonton matahari pergi. Meski pergi hanya sementara, pergi dengan tanpa istirahat karena dia bekerja lagi di tempat lain untuk sinari kehidupan yang kelabu ini. Hingga kemudian tiap sisi dunia jadi terang karenanya, atau tepatnya pernah terang. Meski kemudian gelap akan hadir lagi dan kita merasa butuh sang matahari kembali. Bulan tak cukup. Tapi setidaknya dia matahari yang kecil.

Dan di Losari sore itu, 6 Juli 2010. Aku lihat sendiri matahari yang agung itu tenggelam. Di tengah keramaian yang diam, sambil duduk santai ku amati geraknya pelan-pelan sampai kemudian dia benar-benar pergi. Aku bersyukur, bersyukur atas anugerah bernama matahari itu. Selain itu, bersyukur atas orang-orang lain yang juga bersyukur karenanya di sekitar Losari. Atau mungkin mereka hanya sekedar menghabiskan sore, sambil berupaya usir kesia-siaan siang dan pagi untuk tenggelam bersama mataharinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s