Pagar

Pagar, suatu yang membatasi. Pagar adalah simbol masa kini. Lebih tepatnya simbol di masyarakat perkotaan atau tempat yang katanya desa tapi ingin disangka kota. Pagar adalah cerminan bahwa kehidupan dewasa ini semakin banyak sekat, semakin banyak batas. Ruang gerak untuk interaksi yang luwes dan bebas agak terpinggirkan. Pagar dibentuk dengan berbagai alasan. Ada yang membuatnya untuk benar-benar ingin punya batas dari luar demi menjaga privasi. Yang lain menciptakannya atas dasar ketakutan dari pelbagai peristiwa dan kejadian yang marak terjadi, tindak kriminal misalnya.

Dan ketakutan itu, entah beralasan atau tidak, yang dengan lugas membangun pagar itu pelan-pelan hingga setinggi-tingginya, hingga rasa takut perlahan mereda. Lalu darimana takut itu? Takut itu lahir dari pengalaman, bisa dari pengalaman sendiri atau dari pengalaman orang lain. Pengalaman itu kemudian menularkan kecurigaan dimanapun dan kepada siapapun. Dan kecurigaan itu jualah yang berperan dalam pembanguan pagar. Pagar yang mungkin sanggup mengamankan, tak jarang menjadi jurang pemisah yang kentara.

Jurang itu cukup lebar. Dan semakin lebar karena tergerus angin bernama kesibukan, hingga kemudian makin melebar. Interaksi sang pemilik pagar dan orang disamping rumahnya, yang mungkin berpagar juga, menjadi minim. Atau mungkin tak hanya minim, tapi cuek dan tak peduli sama sekali dengan kehidupan yang bernafas di sekitar. Saudara yang biasa disebut tetangga seakan menjadi saudara-saudara lainnya yang tinggal berjauhan entah dimana, mungkin di ujung dunia sana. Mungkin di ujung kesibukan kita yang tanpa ujung. Dan inilah potret masyarakat modern yang tersetir itu. Entah siapa supirnya. Pastinya kita semua penumpangnya.

Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan atau daerah sejenisnya, pagar mungkin barang yang langka. Jarang tampak dalam keseharian. Tidak menjadi penghias di sekeliling tempat tinggal. Di tempat-tempat itulah interaksi antar masyarakat sekitar masih terbuka, kadang tanpa batas namun tetap menjaga norma dan nilai kesantunan. Di tempat itu juga kesibukan tak sanggup hindari kebutuhan dan kenyamanan akan hidup bersama, yang harmonis dan yang tak terkekang oleh pagar. Pagar yang manapun, yang sebenarnya, atau yang dibubuhi tanda kutip.

Dan kebersamaan itu yang kemudian menimbulkan kekagetan pada sebuah cerita. Cerita tentang ‘pagar-pagar di kota’. Atau mungkin juga cerita tentang individualisme dan rasa curiga dan takut yang sanggup bikin pagar. Orang yang tinggal di lingkungan yang jarang lihat pagar itu tampak kaget ketika diberitahu bahwa di kota orang-orang hidup dengan pagar. Pagar yang mengelilingi aktivitas mereka, pagar yang usir rasa kebersamaan, pagar yang katanya mengamankan rumah mereka. Dan kekagetan itu akan beralasan jika telah menghidupi kehidupan orang yang rumahnya tak berpagar itu.

Orang tadi mengakui tak sanggup membayangkan hidup dibatasi pagar. Biasanya masuk selonong ke dalam rumah tetangga, lalu tiba-tiba hidup ketat penuh sekat tentu hal yang aneh. Dan atas cerita itu pula, orang tadi merasa bersyukur. Bersyukur karena meski tinggal di desa atau lebih tepatnya ‘bukan kota’, kebersamaan antar sesamanya yang hidup di sekitarnya dapat terjaga baik. Meski hidup mereka tertinggal dari orang yang hidup mewah dan tersedia segalanya di kota, tapi kebersamaan itu yang sanggup memenuhi hidup mereka. Hingga hidup mereka penuh seutuhnya, bahkan mungkin meluap bebas tanpa sanggup terhalang pagar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s