van Bronckhorst

Tendangan jarak jauh tiba-tiba dilontarkan pemain bernomor 5. Beberapa detik kemudian gawang Uruguay robek. Pemain bernomor 5 itu adalah Giovanni van Bronckhorst, salah satu ‘wakil’ Indonesia di tim nasional Belanda. Dan tendangan yang berbuah gol itu dicetak pada semifinal Piala Dunia 2010, gol pembuka yang akhirnya menghantar Belanda ke final ketiga sepanjang sejarah. Final yang kemudian gagal, lagi.

Dan cerita soal pemain yang biasa disapa Gio ini tak akan sebatas gol tadi. Ini juga cerita tentang hal-hal yang berbau Indonesia, seperti dirinya yang punya aroma Nusantara. Seperti sudah banyak yang tahu, Gio adalah keturunan Maluku. Ayahnya keturunan Maluku dan ibunya memang orang Maluku. Gio pun dikenal memiliki aksen khas orang Indonesia Timur. Namun begitu, dia mengaku belum sempat menghirup wangi udara Indonesia, yang sesak dan gerah. Yang polutif, kotor, dan kelaparan. Lapar akan pengakuan yang berbau positif dan prestatif.

Oleh karenanya ketika Belanda melaju kencang tanpa noda hingga masuk final, dengan Gio sebagai kapten, orang-orang Indonesia ramai menyebut namanya. Menyebutnya dengan bumbu puji dan kebanggaan. Mereka merasa bangga terhadap ‘putra bangsa yang tercuri’. Mereka memujinya setinggi langit, apalagi dengan ban kapten melingkar dilengannya. Sebuah kebanggaan yang mungkin tak terucap, ketika keturunan bangsa terjajah kini memimpin penjajahnya. Dan itulah yang van Bronckhorst lakukan, dengan baik dengan warna. Warna yang menggores langit Indonesia dengan harapan.

Harapan itu tentu berkaitan dengan prestasi sepak bola nasional. Kita tentu rindu punya pemain sekelas van Bronckhorst di dalam tim nasional Merah Putih yang sedang loyo dan nihil prestasi ini. Kita merasa butuh untuk punya ‘Gio-Gio lainnya’ di atas rumput Gelora Bung Karno, yang diharapkan akan mampu melambungkan nama Indonesia. Tak usah hingga final Piala Dunia, minimal hingga sempat masuk Piala Dunia. Sama seperti van Bronckhorst yang telah tiga kali.

Van Bronckhorst adalah gambaran yang menyenangkan sekaligus miris. Gembira karena minimal dia punya darah Merah Putih. Miris karena dia menunjukkan bahwa kita butuh prestasi yang bisa dipandang dunia. Orang-orang Indonesia memujanya bukan hanya karena dia keturunan Maluku, tapi juga karena memang tak ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Ya semoga saja suatu hari van Bronckhorst yang akan bangga pada Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s