El Tari

El Tari mungkin nama yang asing bagi telinga orang yang biasa mendengar di Jakarta. El Tari mungkin hanya sepatah kata yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tak tahu apa itu, tak penting sepertinya. El Tari adalah nama bandar udara di Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur. Sebuah bandara satu lantai yang kecil dan sederhana, mungkin memang begitu saja adanya. Nama El Tari diambil dari nama seorang mantan Gubernur NTT periode 1966-78, El Tari. Selain sebagai nama airport, El Tari juga merupakan nama ruas jalan utama di Kupang. Bagi masyarakat Kupang pada umumnya, kata El Tari penuh makna. Simbol kota yang dekat dengan laut namun bernuansa perbukitan, menjadikan kota ini sangat unik rasanya. Unik seperti sepanjang jalan El Tari di kala malam mulai datang dan bulan mulai bertugas.

Sebagai jalanan penting di kota yang merupakan ibukota provinsi, El Tari adalah sebuah ironi. Ini bukan masalah apa-apa. Hanya masalah keluhan bulan. Bulan di langit Kupang mengeluh, dia merasa tugasnya sangat berat di kota sasando itu. Melihat Kupang di malam hari sangat miris memang. Ibukota provinsi dan tanpa penerangan memadai di sepanjang jalan, di sepanjang gelap. Hampir di ruas jalan manapun di kota ini, lampu jalan sangat sedikit ditemui. Memang ada, tapi paling hanya satu-dua di setiap ruas jalan yang panjang. Atau mungkin di setiap sudut yang mempertemukan jalan satu dengan lainnya. Tapi memang begitulah keadaan disana, termasuk di El Tari yang sebenarnya menarik di malam hari.

Menjelang pekat malam muncul, puluhan pedagang jagung bakar mempersiapkan jualannya. Mereka kemudian bergegas menuju El Tari untuk memulai pekerjaannya. Mereka berjualan berderet di trotoar salah satu ruas jalan El Tari. Menggelar perlengkapannya dan bersiap menunggu pelanggan. Di suatu malam yang berangin, saya adalah salah satu pelanggan dari salah seorang pedagang jagung bakar disana. Seorang ibu setengah baya yang menjajakan dagangannya tepat di seberang rumah jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur. Jadilah malam itu saya nikmati segenggam jagung bakar plus sebuah kelapa di depan Istana Gubernur. Sambil menyantap, saya hanya memandangi sekitar. Mobil dan motor lalu lalang, gelap, angin, itu saja. Lalu saya kemudian berpikir tentang apa yang sedang saya gigit dengan rakus. Jagung.

Bagi masyarakat Kupang dan masyarakat Timor pada umumnya, jagung merupakan komoditi penting. Jagung adalah nasinya orang disana. Makanan pokok. Tanpa jagung dalam seminggu rasanya aneh bagi mereka. Itulah sebabnya meski nasi memang telah menjadi makanan pokok utama disana, jagung tak bisa dilupakan begitu saja. Bahkan kemudian dibuat perpaduan nasi dan jagung, yang mereka sebut nasi bose. Nasi yang warnanya agak kekuning-kuningan. Rasa nasi dengan aroma jagung yang khas. Aroma jagung yang menghidupi mereka, membesarkan mereka hingga dewasa. Bahkan mendewasakan anak dan cucu mereka kemudian. Jagung.

Tentang jagung, saya jadi teringat sebuah obrolan pendek dengan penduduk Kupang. Tentang orang asli sana yang kemudian hijrah ke Jawa. Pada satu kesempatan orang tersebut menelepon sanak saudaranya yang ada di Kupang. Berbicara panjang lebar, mereka kemudian membicarakan jagung. Suara dari Pulau Jawa itu kemudian bercerita sambil tertawa agak melecehkan bahwa jagung di Jawa hanya berguna sebagai pakan babi, itu saja. Mendengar kisah itu, suara yang di Kupang kemudian bicara agak lantang dengan nada marah yang serius. Dia menasehati orang di Jawa itu, kira-kira seperti ini: “ingat ya walau bagaimanapun kamu besar dari jagung”. Pembicaraan menjadi agak kaku. Kemudian gagang telepon ditaruh dan kita diajak berpikir tentang nasihat tadi.

Saya juga berpikir. Diselingi satu dua gigitan. Diselingi satu dua tegukan. Diselingi bising kota yang gelap. Diselingi angin malam bercampur bau pantai. Diselingi pikiran lain, pikiran tentang El Tari yang kegelapan. Sambil berpikir saya juga bersyukur. Bersyukur bahwa nasihat tadi terlontar, hingga akhirnya saya punya perenungan. Perenungan di bawah cahaya bulan yang menggerutu tak terdengar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s