Wasit

Juni hingga Juli di sebagian wilayah dunia adalah musim panas yang terik, di bagian lain mungkin musim dingin yang basah, mungkin di bagian lainnya beda lagi. Tapi yang pasti Juni hingga pertengahan Juli 2010 adalah musim bola, di seluruh penjuru dunia tanpa kecuali.

Ketika ajang terbesar Piala Dunia digelar di Afrika, seluruh dunia berpesta. Setiap orang sibuk berbincang tentang sepakbola, bahkan tak jarang berdebat. Rutinitas agak terganggu menyesuaikan jadwal pertandingan yang kadang mengganggu pola hidup. Entah bagaimana, Piala Dunia memang punya magi dahsyat. Semua orang menyaksikan dan mengamati dan tak jarang menjadi komentator.

Jadi tak heran kemudian ketika Jorge Larrionda tak mengesahkan gol Frank Lampard, dunia geger. Tendangan gelandang Inggris yang sudah setengah meter melewati garis gawang Jerman, yang dikawal kiper muda Manuel Neuer, tak mampu mengubah papan skor. Publik Inggris marah besar. Seluruh dunia menyebut namanya, tak jarang disisipi kutuk. Mengacu pada anekdot “pertandingan bola yang baik adalah ketika penonton pulang dan tak tahu nama wasitnya”, partai Jerman vs Inggris mungkin pertandingan yang buruk, sangat buruk. Larrionda, wasit asal Uruguay tiba-tiba menjadi sosok artis, sayangnya artis pesakitan yang dihujat tanpa henti. Satu keputusan fatal memulangkannya kembali ke negaranya.

Beberapa jam setelah Inggris, yang kecewa terhadap putusan Larrionda, dibantai Jerman 1-4, ada seorang wasit lain yang jadi buah bibir. Namanya Roberto Rosetti, wasit kenamaan asal Italia. Dia dengan bodoh mengesahkan gol offside Carlos Tevez dari Argentina, sekaligus menghancurkan ritme permainan Meksiko. Jadilah kemudian Meksiko yang terlanjur kecewa kalah 3-1. Mental mereka turun drastis usai keputusan salah Rosetti, gol kedua tim Tango yang dicetak Gonzalo Higuain adalah buktinya. Meksiko pulang. Tapi mereka tak sendiri, Rosetti juga pulang. Pulang dengan malu, pulang dengan status headline media-media sepakbola, menemani Larrionda tentunya.

Dua wasit itu sebenarnya tak sendiri. Ada wasit-wasit lain yang menjadi bahan hujatan banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang dikutuk hanya karena sebuah keputusan yang salah dari ribuan keputusan lain yang tepat. Mereka adalah manusia-manusia yang dipersalahkan oleh manusia-manusia lain yang sebenarnya juga pendosa sama seperti mereka. Ungkapan “wasit juga manusia” menjadi alasan para wasit yang tersudut itu. Tapi dunia tak peduli. Mereka salah, mereka keliru.

Itu adalah bukti bahwa kadang kita yang berdosa ini seringkali menjadi orang suci dan kemudian menunjuk A dan B sebagai si salah. Padahal di sisi yang lain kita sebenarnya sedang menambah dosa kita. Tapi itulah manusia, itulah kita. Wasit terlalu diharapkan menjadi pengadil yang sempurna seperti Tuhan. Kita seringkali lupa mereka juga sama seperti kita, manusia dan terbatas. Sebuah kesalahan saya kira wajar. Sayangnya respon kita yang kadang tak wajar. Sama seperti respon kita terhadap berita panas di Tanah Air yang melibatkan video seks artis.

Tiga artis, yang tak perlu saya sebut namanya, tiba-tiba menjadi perbincangan nasional bahkan regional dan internasional. Mereka yang telah membesarkan namanya bertahun-tahun tiba-tiba menjadi jatuh. Jatuh dan kemungkinan besar tak akan kembali lagi. Mereka yang karena melakukan pelampiasan cinta berdurasi beberapa menit, kini menjadi sasaran empuk orang banyak yang memang doyan mengutuk dan mempersalahkan sesamanya. Sesamanya manusia, sesama pendosa, sesama porno. Kemunafikan akan pornografi sebenarnya membuat kita lebih porno dari sang artis. Kita mungkin lebih cabul dari mereka yang beradegan panas dalam video. Belum lagi komentar kita yang kadang menyudutkan mereka akan semakin menunjukkan bakat munafik kita.

Dan itulah realita yang kita alami, yang kita hidupi. Kita suka menjadi sosok wasit sok suci yang dengan enteng menilai orang lain sesuka hati, bahkan tanpa melirik ke kaca dan berkaca barang sebentar. Kita memang suka dengan hal-hal yang melibatkan kesalahan orang lain daripada hal yang lekat dengan kesalahan kita, yang mungkin lebih parah namun tertutup manis dengan sikap sok suci kita. Wasit-wasit atau artis-artis tadi hanyalah segelintir korban dari perilaku kita yang munafik dan kejam, yang tak memandang mereka sebagai manusia juga, yang bisa salah, yang punya dosa. Ya, kita memang sosok wasit yang kurang ajar.

Dengan enteng kita tiup peluit, menghampiri pemain, dan mengangkat kartu merah ke udara. Sang terhukum kemudian keluar tertunduk malu, tak jarang menutupi wajah dengan kostumnya. Tentu disertai riuh ejek dan hujat dari ribuan orang lain yang ingin juga jadi wasit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s