Liburan

Liburan? Bukan sekedar buang uang dan waktu. Liburan adalah garis tebal yang membatasi rutinitas dan kehidupan tanpa rutinitas. Liburan bagi banyak orang adalah nafas baru. Nafas yang mengisi rutinitas. Jadi liburan adalah hal yang penting dan tentunya berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari yang sibuk dan kadang tanpa jeda.

Dan bagi saya, liburan adalah petualangan. Petualangan untuk keluar dari hari-hari menyesatkan yang lebih sering menghiasi kehidupan. Kehidupan yang diatur oleh hal-hal diluar saya. Kehidupan yang mungkin sebenarnya tidak saya inginkan. Kehidupan yang memaksa untuk dihidupi, tanpa kesempatan untuk menolak. Petualangan itu kemudian melarikan saya jauh dari keramaian yang bising dan polutif, jauh dari kemunafikan modernitas yang semu dan jahat. Untuk kemudian memasuki kehidupan yang mungkin memang tidak sempurna, tapi menolong hati saya untuk tersenyum puas, meski hanya sebentar. Hanya sebatas liburan.

Bagaimana kemudian liburan dimaknai oleh setiap orang sangat variatif. Liburan kadang dipandang sebagai hantu yang mengacaukan rutinitas. Ada juga yang menganggap liburan sebagai hal yang tak ada gunanya, hanya merusak ritme karir yang telah tersusun. Liburan pun menjadi momok menakutkan bagi kehidupan materialtis yang sekarang menguasai setiap elemen hidup. Dengan liburan, arus uang menuju dompet menjadi berhenti. Bahkan arus keluar yang akan terjadi, kadang tanpa kendali.

Jadi kemudian liburan sering disikapi secara berlebihan, teratur, kaku. Padahal liburan adalah bentukan yang harus menyenangkan. Luwes tanpa beban, tanpa banyak dipikir, tanpa banyak kreasi. Liburan harusnya ibarat arus liar yang akan menabrak dan mengombang-ambingkan kita ke dunia tenang tanpa kesibukan, tanpa pembohongan terhadap diri sendiri. Liburan juga yang nanti akan kembali melemparkan kita ke pantai rutinitas yang sesak, namun dengan beban yang nol. Karena beban telah tertinggal di lautan liburan kala kita terombang-ambing.

Untuk itulah sebenarnya liburan saya anggap penting. Melepas beban dan membuang keringat lelah. Bisa juga sebagai pembasuh dendam akan kegagalan dan trauma pada kehidupan rutin yang kita alami. Bisa juga sebagai penyegar ikatan pertemanan agar tidak membosankan dan selalu berkesan baru, hingga pertemanan menjadi lebih awet, menjadi abadi. Meski pertemanan memang tak butuh liburan, tapi ia butuh rehat. Rehat untuk tidak saling menatap selama beberapa waktu, untuk tidak saling berkisah. Hingga ketika rehat itu berakhir, emosi dapat tertumpah deras namun rapi memesona.

Jelas kemudian bahwa liburan mutlak sebagai kebutuhan umat modern yang menghidup dunia yang pura-pura senang ini. Padahal di setiap jejak rutinitas yang terekam di situlah air mata kita tertetes, sedih dan tanpa wujud. Kadang tersapu angin bernama tuntutan dan kewajiban. Angin yang jahat yang kemudian akan mengatur kita seperti boneka mainan yang dungu dan tanpa kontrol terhadap diri sendiri. Dan ketika liburan datang, kedunguan kita berakhir. Kita punya waktu berpikir apakah akan menjadi dungu lagi ketika liburan usai, atau memutuskan untuk pergi menyingkir dari kedunguan kita. Kebanyakan kita tetap dungu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s