Karir

Christopher McCandless, si petualang muda yang mati dalam kesunyian alam liar Alaska suatu kali menulis dalam sebuah surat “Karir adalah penemuan abad 20 dan saya sama sekali tidak menginginkannya.” Karir memang kejam. Lihat saja dia membuang kedamaian, dia mengusir mimpi. Karir adalah bentukan masyarakat yang punya orientasi tentang uang dan materi. Karir bukan untuk orang yang hanya ingin hidup. Hanya hidup.

Karir juga merupakan semacam teriakan suruhan yang memaksa. Dia memaksa setiap orang tanpa terkecuali untuk menggelutinya. Hanya sedikit orang yang berhasil menghindar dari teriakan itu. Itulah sejatinya orang-orang terhebat. Orang-orang tanpa karir. Orang-orang yang menjalani model kehidupan persis dengan yang dikehendakinya. Orang-orang yang tak terbawa arus deras penyetir kehidupan manusia yang menjanjikan kehidupan yang katanya lebih baik. Padahal secara tanpa sadar mereka justru menjalani kehidupan terburuk dengan karir.

Tapi tak bisa dipungkiri jika karir memiliki kekuatan tak terlihat yang luar biasa. Bagaimana mungkin dia, sang tanpa wujud, berhasil menyuruh orang-orang berakal jika tanpa daya magis dahsyat. Bahkan tak jarang orang-orang tercerdas ikut terbawa arus yang mistik itu.

Karir, bagi saya, dibentuk secara kolektif oleh masyarakat. Karir disosialisasikan dengan cara beragam sebagai sebuah karya manusia untuk menghidupi kehidupan agar lebih baik, agar kita bisa mewujudkan impian kita.

Tanpa sadar, karir adalah sebuah setir yang kadang keliru. Bukannya membawa kita mendekat pada mimpi yang tergantung di ujung pelangi itu, karir justru mendorong kita perlahan namun pasti untuk menjauhi mimpi-mimpi itu. Jadilah selamanya mimpi itu tetap tergantung di ujung pelangi, kita hanya dapat melihatnya sehabis hujan dan menyesalinya sambil tanpa bisa berbuat apapun. Kadang semuanya berlalu cepat dan semua terlambat. Ya, kata terlambat memang ada.

Saya tak akan munafik dengan mengatakan bahwa saya tak butuh karir, bahwa saya tak ingin punya karir. Dengan model kehidupan yang sudah terjalani sejauh ini, karir memang sebuah langkah lanjutan dari apa yang telah terjejak di kalender yang lalu. Sekolah, kuliah, lalu kerja, yang tak lain adalah berkarir. Terbentuk dari kecil dan meresap hingga dewasa, demikianlah karir itu.

Karir bukan proses satu dua hari yang instan. Karir bukan setitik tinta yang rusaki sebaskom susu. Karir adalah kesalahan mendasar yang telah diracuni generasi dan masyarakat terdahulu. Dan kita yang diracuni itu, kemudian akan meracuni era setelah kita juga. Itulah karir, hebat dan jahat.

Dengan segala pemahaman tadi, saya sedang dalam usaha mengelak dari mulut karir yang menganga siap menerkam. Saya tak tahu akan gagal atau berhasil. Saya hanya tahu bahwa jika saya gagal, saya akan tetap seminimal mungkin menuruti hasrat paling dasar meski tak sempurna. Jika berhasil, saya adalah manusia paling bahagia di dunia. Hidup damai dalam mimpi tanpa racun itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s